milik Barcelona Kemenangan 2-0 atas Racing Santander babak 16 besar Copa del Rey memang jauh dari kata mudah, namun sekali lagi menunjukkan semakin besarnya otoritas tim asuhan Hansi Flick.

Gol dari Ferran Torres dan Lamine Yamal memastikan lolos ke perempat final dan dipastikan milik Barca keunggulan yang jelas sepanjang pertandingan, bahkan pada malam yang menuntut di El Sardinero.

Iklan

Selain lolos ke Copa del Rey, hasil ini membawa nilai simbolis yang jauh lebih besar.

Pasalnya, dengan kemenangan di Santander, Barcelona kini mencatatkan 11 kemenangan beruntun di semua kompetisi.

Rekor tersebut tetap menjadi rekor kemenangan terbaik Flick sejak mengambil alih dan menunjukkan betapa cepatnya ia menerapkan konsistensi, kepercayaan, dan kendali pada tim.

Apa ceritanya?

Mencapai 11 kemenangan berturut-turut menempatkan Flick di perusahaan elit di Barcelona, ​​​​karena hanya dua manajer dalam sejarah klub yang sebelumnya mencapai rangkaian kemenangan yang sama.

Yang pertama adalah Pep Guardiola, yang timnya pada tahun 2009 memadukan dominasi dengan gaya dan mengakhiri musim dengan treble bersejarah.

Barcelona telah mencatatkan 11 kemenangan beruntun. (Foto oleh Juan Manuel Serrano Arce/Getty Images)

Iklan

Yang kedua adalah Luis Enrique, yang mengulangi prestasi tersebut pada tahun 2015, memimpin Barca menuju kejayaan Liga Champions dengan trio penyerang yang menghancurkan.

Persamaannya tidak mungkin untuk diabaikan, karena Guardiola dan Luis Enrique sama-sama mencatatkan 11 kemenangan selama musim yang berakhir dengan kemenangan Liga Champions UEFA.

Dapat dimengerti jika Flick mencapai tonggak sejarah yang sama memicu optimisme di kalangan penggemar, meskipun pelatih asal Jerman itu sendiri tetap fokus pada tujuan jangka pendek daripada perbandingan historis.

Sementara itu, rekor kemenangan beruntun terlama dalam sejarah modern Barcelona masih menjadi milik sosok ikonik lainnya.

Di bawah Frank Rijkaard, Barça menghasilkan 18 kemenangan berturut-turut yang luar biasa selama musim 2005-2006.

Urutan tersebut, yang berlangsung dari Oktober hingga Januari, meletakkan dasar bagi kesuksesan Eropa dan tetap menjadi tolok ukur keunggulan klub.

Tautan Sumber