Orang Tua Sibuk Kerja, Anaknya Dicabuli Tukang Siomay di Jaksel

KABARSEBELAS.COM – Bocah ZF (6) menjadi korban pencabulan oleh seorang tukang somay yang berjualan di sekitar rumahnya kawasan Jakarta Selatan. Orangtua ZF sibuk bekerja saat aksi bejat tersebut terjadi.

Aksi pencabulan sudah berlangsung selama satu tahun terakhir. Baru terbongkar pada Senin, 24 Januari 2022 lalu.

“Dia (korban) cerita ke ibunya, katanya sering mendapat perlakuan tak senonoh dari om somay. Kontan ibunya pulang setelah pulang dan nanya langsung ke putrinya tersebut,” kata Nunu saat dihubungi, dikutip dari Merdeka.com, Kamis (3/2).

Nunu menerangkan, ibu korban telah dimintai keterangan sebagai saksi. Berdasarkan pemeriksaan, diketahui bahwa pencabulan sudah sering terjadi. Nunu menyebut, kurang lebih berlangsung sejak tahun 2021.

“Korban mengaku sering dilakukan pencabulan oleh si pelaku. Untuk berapa kalinya korban tidak bisa mengingat, namun dia mengatakan sering,” kata dia.

Nunu menerangkan, pelakunya adalah tukang somay berinisial K yang sering mangkal di dekat rumah korban. Nunu menerangkan, K melakukan pencabulan saat kedua orangtua korban sedang sibuk bekerja. Korban sendiri tinggal seorang diri di rumah.

“Pelaku mencabuli korban kadang di teras, atau di dalam rumah,” ucap dia.

Nunu mengatakan, pelaku mengiming-imingi korban dengan uang Rp5 ribu. Tak hanya itu, pelaku juga mengancam korban agar tidak memberitahukan perbuatannya ke siapapun termasuk orangtua korban sendiri.

Ancaman itu pun membuat korban ketakutan dan tidak berani mengadu ke ibunya.

“Korban diancam sama tukang somay itu kalau ‘kamu nanti ngomong-ngomong kita pada berantem. Jangan ngomong-ngomong nanti kita pada berantem. Si anak takut orangtuanya berantem, makanya dia tidak cerita,” terang dia.

Nunu mengatakan, tukang somay telah ditetapkan sebagai tersangka berdasar dua alat bukti yang dikantongi penyidik. Sementara itu, pelaku sampai saat ini masih dalam perburuan.

“Pelaku sudah kami indetifikasi, sudah ada (identitas) cuma saat ini pelaku masih dalam pencarian,” terang dia.

Atas perbuatannya, pelaku terancam Pasal 76 e jo 82 UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

“Ancaman hukuman 15 tahun,” ujar dia.