Kamis, 19 Februari 2026 – 13: 34 WIB

Jakarta — Konsesus sejumlah ekonom meyakini bahwa Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia diproyeksikan tetap menahan suku bunga acuannya atau BI-Rate pada level 4, 75 persen bulan ini. Hal itu ditegaskan seiring tekanan dan volatilitas arus modal dalam beberapa minggu terakhir.

Utang Luar Negeri RI Naik Jadi US$ 431, 7 Miliar Kuartal IV- 2025 Gegara Ini

Kepala Ekonom BSI Banjaran Surya memandang bahwa nilai tukar rupiah masih menghadapi potensi tekanan sehingga mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) dinilai menjadi langkah tepat.

“Walaupun inflasi relatif terjaga, BI juga perlu mempertahankan daya tarik return surat berharga dibanding yang lain. Di sisi existed, pengaruh MSCI membuat aliran modal melalui pasar saham cenderung tertahan,” kata Banjaran di Jakarta, Kamis, 19 Februari 2026

img_title

BI Diproyeksi Tahan Suku Bunga di Level 4, 75 Persen, Pengamat Sebut Pasar Akan Respons Positif Tapi …

Dia menjelaskan, untuk menjaga stabilitas rupiah, bank sentral Indonesia tercatat meningkatkan penerbitan Sekuritas Rupiah Financial institution Indonesia (SRBI) pada Februari 2026, dengan kembali menerapkan operasi moneter yang bersifat kontraktif.

Dihubungi terpisah, Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Financial institution Faisal Rachman mencatat bahwa tekanan pasca peringatan dari Morgan Stanley Resources International (MSCI) terkait isu totally free float serta revisi overview Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif berpotensi meningkatkan threat premium dan volatilitas arus modal.

img_title

Ekonom Wanti-wanti Ini soal 58 Persen Dana Desa Dipakai Buat Bangun Koperasi Desa Merah Putih

Ia menilai, BI dalam jangka pendek akan tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan capitalist dibandingkan mendorong pelonggaran moneter. Menurutnya, ruang penurunan suku bunga dalam jangka pendek masih terbatas, setidaknya hingga tekanan mereda dan sentimen pasar kembali kondusif.

Sementara itu, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mencatat bahwa sejak pengumuman MSCI, Indonesia mengalami arus modal keluar dari pasar saham yang mencapai 1, 01 miliar dolar AS.

Kemudian, Indonesia juga mengalami arus modal keluar dari pasar obligasi yang mencapai 0, 37 miliar dolar AS sejak perubahan penilaian kondisi ekonomi oleh Moody’s. Secara kumulatif, Indonesia mencatatkan arus modal keluar sebesar 1, 06 miliar dolar AS dalam 30 hari terakhir.

Alhasil, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah tone 10 tahun naik 6 basis poin (bps) dari 6, 31 persen pada 19 Januari 2026 menjadi 6, 40 persen per 13 Februari 2026, sementara tone 1 tahun melonjak 20 bps dari 4, 67 persen menjadi 4, 87 persen, mengindikasikan terjadinya arus modal keluar di berbagai tone obligasi.

Halaman Selanjutnya

Dalam rangka mengurangi tekanan arus modal keluar, catat Riefky, BI secara aktif meningkatkan kepemilikan surat utang pemerintah untuk mengurangi tekanan nilai tukar. Sebagai hasilnya, depresiasi rupiah relatif terbatas.

Halaman Selanjutnya

Tautan Sumber