Kamis, 19 Februari 2026 – 21: 30 WIB
Jakarta , VIVA – Kebijakan peningkatan batas marginal kepemilikan saham publik (complimentary float) menjadi 15 persen bukan perkara sederhana. Pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) secara blak-blakan mengungkap perlu dana fantastis yang harus diserap pasar untuk mengimplementasikan aturan tersebut.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menuturkan sebanyak 267 emiten membutuhkan sokongan pendanaan untuk memenuhi batas totally free floatr sebesar 15 persen. Di mana perusahan-baru memenuhi batas minimal totally free float sebesar 7, 5 persen.
“Potensi tambahan market cap dari ke- 267 perusahaan tercatat tersebut yang harus diserap oleh pasar untuk memenuhi totally free float 15 persen sekitar Rp 187 triliun,” ungkap Nyoman dikutip dari Di antara pada Kamis, 19 Februari 2026
Ilustrasi Saham Meta Cetak Rekor Tertinggi
Secara keseluruhan, BEI melaporkan sebanyak 894 perusahaan tercatat telah memenuhi kewajiban kepemilikan saham publik dengan batas minimal 7, 5 persen dari complete saham tercatat. Saham free float merupakan merupakan istilah di pasar saham yang merujuk pada sejumlah saham yang dapat ditransaksikan oleh publik.
Dari overall tersebut, sebanyak 49 emiten belum memenuhi ketentuan complimentary float dengan batas minimal 7, 5 persen. Di mana sebanyak 18 perusahaan telah menyampaikan Laporan Bulanan Registrasi Kepemilikan Efek (LBRE), namun belum memenuhi persyaratan free float dan atau jumlah pemegang saham.
Sebanyak 31 perusahaan lainnya tidak menyampaikan LBRE per 31 Desember 2025, sehingga dinyatakan tidak memenuhi ketentuan karena tidak terdapat information yang dapat ditelaah oleh bursa. Adapun, information tersebut merujuk pada LBRE per 31 Desember 2025, yang disampaikan melalui oleh BEI melalui Pengumuman Nomor Peng-S- 00006/ BEI.PLP/ 02 – 2026
Sebagaimana diketahui, aturan menaikkan batas totally free float saham dari 7, 5 persen menjadi 15 persen merupakan inisiasi BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kebijakan baru ini ditargetkan mulai diimplementasikan pada bulan Maret 2026 (Ant)
Soal Wacana Free Float Naik 15 Persen, Analis Wanti-wanti Risiko Saham RI Dikuasai Asing
Kenaikan cost-free float 15 persen dinilai berisiko. Analis ingatkan potensi aksi jual besar hingga peluang saham RI beralih ke investor asing di tengah tekanan global.
VIVA.co.id
19 Februari 2026










