Rabu, 18 Februari 2026 – 16:06 WIB

Jakarta – Di tengah tren belajar lintas negara yang makin fleksibel, konferensi internasional kini tak lagi harus dilakukan dengan terbang ribuan kilometer. Lewat layar laptop, ratusan anak muda dari berbagai belahan dunia bisa duduk bersama, berdiskusi, bahkan berdebat soal isu global. Itulah yang terjadi dalam gelaran Asia Youth International Model United Nations Virtual Conference (AYIMUN VC) ke-27.



Luhut Usul ke Prabowo Pilih Anak Muda untuk Pimpin Pasar Modal

Diselenggarakan oleh International Global Network (IGN) pada 14–15 Februari 2026, konferensi ini diikuti 220 delegasi dari 25 negara. Mengusung konsep virtual, AYIMUN VC menghadirkan pengalaman diplomasi global yang tetap terasa intens, meski tanpa pertemuan fisik. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

Buat generasi muda yang tertarik pada isu internasional, AYIMUN bukan sekadar ajang debat formal. Ini juga ruang untuk melatih kepercayaan diri, public speaking, hingga kemampuan negosiasi—soft skills yang kini jadi “modal sosial” penting di era global.


img_title

Pramono Ingin MTQ Digelar hingga Tingkat Provinsi agar Anak Muda Perkuat Nilai Keagamaan

“Sebagai delegasi AYIMUN, kalian akan berpikir secara strategis, bernegosiasi secara bertanggungjawab, dan berkolaborasi antar perspektif.” ujar Muhammad Fahrizal selaku president dari IGN, dalam keterangannya, dikutip Rabu 18 Februari 2026.


img_title

Drama China Meledak, Jadi Ladang Kerja Baru Buat Ratusan Ribu Anak Muda di Tiongkok

“Jadikan konferensi ini tempat di mana ide inovatif bertemu, solusi praktis dan halus, dan aksi kolektif diperkuat,” sambungnya.

Bahas Isu Global yang Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari

AYIMUN VC ke-27 membagi diskusi ke dalam empat council dengan topik yang relevan dengan gaya hidup masa kini. Di council United Nations Environment Programme (UNEP), peserta membahas persoalan plastik sekali pakai dan fenomena “benua plastik” di lautan—isu yang dekat dengan kebiasaan konsumsi sehari-hari.

Di council World Health Organization (WHO), diskusi menyoroti dampak polusi udara dan limbah industri terhadap kesehatan publik. Sementara itu, UNESCO mengangkat topik ketahanan iklim dalam upaya pengentasan kemiskinan, dan North Atlantic Treaty Organization (NATO) membahas persaingan strategis serta keamanan lingkungan di kawasan Arktik yang mencair.

Meski terdengar berat, format diskusi dirancang tetap dinamis. Para delegasi mengikuti sesi formal untuk menyusun dokumen solusi, dibimbing oleh para chair berpengalaman dari berbagai negara seperti Prancis, Korea Selatan, Thailand, Lebanon, hingga Indonesia. Hasilnya bukan hanya debat, tetapi juga rekomendasi konkret.

Halaman Selanjutnya

Diplomasi Jadi Bagian dari Gaya Hidup Global

Halaman Selanjutnya

Tautan Sumber