Rabu, 18 Februari 2026 – 16: 32 WIB
Aceh, PANJANG HIDUP — Menyambut bulan suci Ramadan, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) angkatan 83/ Widya Parama Satwika (WPS) menunjukkan kepedulian nyata kepada masyarakat Aceh yang terdampak bencana.
Sebanyak 70 ekor sapi disalurkan untuk mendukung pelaksanaan tradisi meugang di sejumlah wilayah terdampak.
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis di Gampong Blang, Langsa Kota, Aceh, pada Senin pagi. Suasana haru menyelimuti prosesi tersebut yang turut dihadiri perwakilan pemerintah setempat, tokoh masyarakat, serta warga korban bencana.
Puluhan sapi itu selanjutnya akan didistribusikan ke beberapa desa terdampak agar masyarakat tetap bisa menjalankan tradisi meugang, budaya turun-temurun yang menjadi bagian penting kehidupan warga Aceh menjelang Ramadan.
Ketua STIK, Inspektur Jenderal Polisi Eko Rudi Sudarto, menegaskan bahwa bantuan tersebut merupakan implementasi nilai kemanusiaan yang selalu ditanamkan kepada para mahasiswa.
“Sumbangan ini adalah bentuk kepedulian kita terhadap saudara-saudara di Aceh yang sedang menghadapi masa sulit pasca bencana. Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, kita harus hadir meringankan beban mereka,” katanya, Rabu, 18 Februari 2026
Ia menambahkan, kegiatan sosial ini sejalan dengan pesan moral yang kerap ia sampaikan kepada para calon perwira kepolisian.
“Saya selalu mengingatkan kepada para mahasiswa kita funakan logika dan rasa dalam pelaksanaan tugas di tengah-tengah masyarakat. Logika membimbing kita bertindak tepat, sementara rasa membuat kita memahami penderitaan sesama. Kedua hal ini harus berjalan beriringan agar kita menjadi polisi yang tidak hanya profesional, tetapi juga humanis,” tutur dia.
Mahasiswa STIK yang hadir langsung di lokasi mengaku tergerak membantu setelah melihat kondisi masyarakat yang masih berjuang bangkit dari bencana. Keuchik atau Kepala Desa Gampong Blang, Junaidi, menyampaikan apresiasi atas bantuan tersebut.
“Bantuan ini sangat berarti bagi kami yang sedang berjuang bangkit dari bencana. Mereka tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga memberikan harapan dan semangat bagi kami,” kata Junaidi.
Hal senada diungkapkan salah seorang warga korban bencana, Ibu Salmah (52
“Alhamdulillah, kami masih bisa merasakan tradisi meugang tahun ini berkat bantuan dari mahasiswa STIK. Semoga Allah membalas kebaikan mereka semua,” ucap Salmah.
Halaman Selanjutnya
Sebagai informasi, tradisi meugang merupakan budaya khas Aceh yang dilaksanakan menjelang Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, di mana masyarakat memasak dan menikmati hidangan daging bersama keluarga. Di tengah keterbatasan akibat bencana, bantuan tersebut menjadi angin segar agar tradisi leluhur tetap terjaga.









