Kamis, 19 Februari 2026 – 20: 02 WIB
Jakarta — Pendakwah Buya Yahya mengingatkan ada hal-hal yang tampak sepele dan tidak membatalkan puasa secara hukum fikih, tetapi bisa menghapus pahala puasa. Hal ini sebagaimana esensi puasa yang tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga sejak waktu imsak hingga adzan maghrib berkumandang.
Buya Yahya mengingatkan bahwa pahala adalah sesuatu yang tersembunyi dan hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Karena itu, seseorang bisa saja merasa puasanya sah, padahal tanpa disadari pahala yang ia harapkan justru terkikis oleh perbuatan buruk.
Untuk itu, ia meminta umat Islam tidak hanya fokus pada puasa lahiriah saja, namun juga menjaga ‘puasa batin’ agar pahala Ramadhan tidak terhapuskan. Hal ini untuk menghindari hilangnya pahala atas perbuatan ‘ringan’ tersebut.
“Ada hal-hal yang tidak membatalkan puasa. Namun justru menghilangkan pahala puasa. Sehingga seorang hamba yang berpuasa tidak mendapat (pahala) kecuali lapar dan haus,” kata Buya Yahya dikutip dari kanal YouTube TV Al-Bahjah pada Kamis, 19 Februari 2026
Ilustrasi bergosip/gibah.
Kata Buya Yahya, seseorang tetap sah puasanya jika tidak makan, minum, dan tidak berhubungan suami istri. Namun, jika setiap hari lisannya dipenuhi kata-kata kotor, ghibah, merendahkan, atau mencela orang lain, maka pahala puasanya bisa hilang tanpa disadari.
“Kadang ini tidak disadari, padahal itu menjadikan pahala itu hapus,” ujarnya.
Ia menjelaskan, orang yang bekata kasar atau bergunjing tidak melanggar secara rukun puasa karena tidak melanggar rukun puasa, yakni menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya puasa batin, khususnya di bulan Ramadan.
“Rukun puasanya jelas, puasa lahiriah, tapi ada puasa batin. Rasulullah menyebutkan puasa batin, artinya menjaga sesuatu yang menyebabkan hilangnya pahala (puasa),” jelasnya.
Buya Yahya menyinggung salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menyebut puasa sebagai benteng. Buya Yahya menekankan makna benteng tersebut bukan hanya dari sisi fisik, tetapi juga moral dan perilaku.
Halaman Selanjutnya
“Artinya hendaknya yang namanya puasa itu bisa menjadi benteng, bisa menjadi tameng agar kita tidak masuk dalam kesalahan, kemaksiatan, dosa dan neraka,” tuturnya.










