Kamis, 19 Februari 2026 – 21: 58 WIB
Jakarta — Deputi Gubernur Senior Citizen Financial Institution Indonesia (BI), Destry Damayanti melaporkan, sejak awal tahun hingga 13 Februari 2026, tercatat investasi portofolio asing yang masuk (net inflows) ke Indonesia mencapai sebesar US$ 1, 6 miliar.
Berdasarkan data negotiation di tanggal 18 Februari ini, Destry menyampaikan bahwa inflow di SRBI tercatat mencapai Rp 31 triliun, dan di SBN mencapai sekitar Rp 530 miliar. Dengan inflow yang terus meningkat ini, maka secara year-to-date (ytd) totalnya mencapai sekitar US$ 1, 6 miliar.
“Dan ini sangat membantu sekali untuk stabilitas dari rupiah itu sendiri,” kata Destry dalam telekonferensi pers, Kamis, 19 Februari 2026
Deputi Gubernur Senior Citizen Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti.
Dia menjabarkan, aliran modal masuk tersebut terutama ditopang arus modal asing yang besar ke Sekuritas Rupiah Financial institution Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Sedangkan investasi pada saham masih mencatat arus keluar (outflows).
Destry menambahkan, financial institution sentral juga terus memperdalam pasar valuta asing (valas) untuk rupiah-renminbi (RMB) Tiongkok, guna mendukung transaksi perdagangan Indonesia dengan Tiongkok khususnya dalam implementasi local money transaction (LCT).
Dia mencatat, transaksi LCT dengan Tiongkok terus meningkat, dimana pada Desember 2025 nilainya mencapai US$ 2, 7 miliar. Karenanya, BI pun terus mendorong penggunaan mata uang lokal agar transaksi tidak sepenuhnya bergantung pada dolar AS.
“Dan kalau kita lihat juga suplainya makin lama juga makin bertambah. Tapi memang tentu masih terus kita butuhkan upaya untuk penambahan suplai dari CNY dan CNH di pasar valas kita,” ujarnya.
Sementara Gubernur BI, Perry Warjiyo, memandang nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya, atau undervalued dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Hal itu termasuk konsistensi dengan pengendalian inflasi sesuai sasaran 2, 5 +/- 1 persen pada 2026 dan 2027
“Faktor fundamental yaitu indikator inflasi, pertumbuhan ekonomi, imbal hasil, maupun juga indikator-indikator lain yang semuanya menunjukkan rupiah semestinya akan lebih stabil dan cenderung menguat,” kata Perry.
Namun, Perry menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi faktor teknikal dan premi risiko worldwide, yang memicu gejolak jangka pendek di pasar keuangan.
“Sehingga BI terus meningkatkan intensitas stabilisasi nilai tukar rupiah baik melalui intervensi di pasar non-delivery onward (NDF) luar negeri (off-shore), maupun transaksi area dan domestic non-delivery onward (DNDF) di pasar dalam negeri,” ujarnya.
Perdana di RDG BI, Thomas Jamin Ketahanan Perbankan RI Kuat dari Tekanan Eksternal
Thomas Djiwandono menegaskan ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi skenario tekanan eksternal, sebagaimana hasil dari liquidity cardiovascular test.
VIVA.co.id
19 Februari 2026










