Sabtu, 14 Februari 2026 – 10:28 WIB
Jakarta – Pandemi Covid-19 periode 2020-2022 mengubah preferensi masyarakat dalam memilih moda transportasi. Layanan bus antarkota perlahan kehilangan peminat, sementara shuttle justru semakin diminati karena dinilai lebih nyaman, praktis, dan fleksibel.
Bandung, Jawa Barat, dipilih sebagai rute utama karena memiliki mobilitas tinggi dan potensi pasar besar. Rencana pembangunan tol baru juga membuka peluang pertumbuhan bisnis shuttle.
TRAVL, unit bisnis travel milik PT Maya Gapura Intan (MGI) melakukan riset. Hasilnya, shuttle dinilai lebih diminati dibandingkan Kereta Cepat Whoosh, karena faktor harga, kenyamanan, serta kemudahan akses, mengingat tidak semua wilayah mudah menjangkau stasiun keberangkatan.
Kendati demikian, membangun bisnis shuttle di Bandung bukan perkara mudah. Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Bandung, terdapat sekitar 23 perusahaan shuttle yang telah beroperasi, sehingga persaingan menjadi sangat ketat.
Meski begitu, potensi pasar di Jawa Barat, khususnya Bandung, masih sangat besar mengingat tingginya mobilitas masyarakat untuk bekerja, kuliah, berwisata, dan berbagai keperluan antarkota lainnya.
Namun, Manajer Pengembangan Bisnis TRAVL, Fillipus Christian, menerapkan strategi yang tidak biasa. Tak tanggung-tanggung, TRAVL menargetkan mengoperasikan 100 unit armada dengan 60 ribu penumpang hingga akhir 2026. Mengapa TRAVL begitu percaya diri?
“Karena kami menerapkan strategi berbasis riset. Salah satunya melalui diskusi kelompok fokus (FGD) terhadap pengguna rute Jakarta–Bandung dalam tiga bulan terakhir,” kata dia.
Hasil riset menunjukkan kelompok usia 20–30 tahun, yang didominasi mahasiswa dan pekerja baru (lulusan baru), sangat sensitif terhadap harga, dengan kisaran ideal Rp100 ribu–Rp125 ribu.
Sementara kelompok usia 31–40 tahun juga sensitif terhadap harga, namun dengan alasan berbeda, yakni karena intensitas perjalanan yang tinggi (pengguna berat) dengan frekuensi bolak-balik Bandung–Jakarta 2 hingga 4 kali per bulan, sehingga harga ideal berada di kisaran Rp170 ribu–Rp190 ribu.
Nah, kelompok usia 31–40 tahun ini menjadi pasar utama TRAVL. Selain harga, TRAVL juga menekankan kemudahan akses, kenyamanan, dan keamanan sebagai faktor utama layanan.
“Kalau di shuttle akses jadi nomor satu. Dari sisi pemasaran, kami memanfaatkan riset terhadap 200 responden yang menunjukkan bahwa pemesanan tiket masih didominasi oleh agen perjalanan online (OTA), agen perjalanan, dan berjalan di,” ungkap Filipus.
Halaman Selanjutnya
TRAVL mulai melayani rute Jakarta–Bandung pulang pergi sejak 22 Desember 2025. Saat ini, mereka memiliki 33 unit shuttle premium, dengan 24 unit di antaranya aktif beroperasi, serta melayani sekitar 3.900 penumpang.










