Minggu, 15 Februari 2026 – 12: 28 WIB

Jakarta — Sorotan terhadap isu kekerasan hewan kembali mencuat setelah laporan SMACC 2021 sempat menempatkan Indonesia di peringkat pertama dunia dalam unggahan konten penyiksaan hewan. Fakta tersebut memicu kegelisahan banyak pihak, termasuk figur publik yang selama ini vokal dalam isu kesejahteraan satwa.

Dari Dokter Hewan Virtual sampai Donasi Satwa, Beginilah Gaya Hidup Pet Friendly Masa Kini

Salah satunya adalah Melanie Subono. Aktivis sekaligus musisi itu menilai posisi tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan alarm keras bagi kesadaran kolektif masyarakat. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

“Relawan selama ini lebih banyak menyelamatkan setelah kejadian, bukan mencegah. Regulasi saja tidak cukup. Kita butuh kerja sama semua pihak, dari edukasi di rumah, media sosial, sampai pengawasan publik. Yang paling penting, masyarakat harus benar-benar menyadari bahwa hewan itu juga makhluk hidup. Mereka bisa takut, bisa injury, dan bisa kehilangan kepercayaan pada manusia,” jelas Melanie dalam keterangannya, dikutip Minggu 15 Februari 2026

img_title

Simon Cowell Disuruh Mundur dari Juri AGT, Hingga Perlakuan Orang pada Putri Ariani Sebelum Ngetop

Menurut Melanie, persoalan kekerasan terhadap anjing jalanan misalnya, tak bisa hanya dibebankan pada shelter atau komunitas penyelamat. Ia menyoroti kondisi penampungan yang sudah melebihi kapasitas di berbagai kota besar. Dengan populasi anjing nasional yang diperkirakan mencapai 16 juta ekor berdasarkan data One Health and wellness Roadmap Kemenkes RI, pendekatan penampungan dinilai tidak lagi memadai.

Ia pun menegaskan bahwa solusi harus menyentuh akar persoalan. Jika hanya mengandalkan sanctuary, itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Pencegahan harus diperkuat, dan masyarakat luas juga perlu dijadikan target edukasi.

img_title

Melanie Subono Ungkap Kondisi Putri Ariani Sebelum Terkenal, Dicuekin dan Dikasihani

Inisiatif berbasis teknologi bernama Pawtective Siren word play here digagas komunitas Hope for Strays. Perangkat ini berupa kalung pintar dengan sensing unit detak jantung yang dirancang mendeteksi lonjakan ekstrem saat anjing mengalami ketakutan atau ancaman serius. Jika detak jantung melewati ambang batas tertentu, alarm bersuara nyaring dan lampu LED akan aktif untuk menarik perhatian sekitar.

Jeremy Randolph, perwakilan gerakan tersebut, menyebut selama ini banyak kasus kekerasan terjadi di lokasi sepi tanpa saksi.

“Selama ini shelter dan relawan bekerja luar biasa keras, tetapi mereka lebih banyak menyelamatkan setelah kejadian. Sementara kekerasan sering terjadi di lokasi sepi atau malam hari tanpa saksi. Pawtective Alarm kami rancang sebagai perlindungan langsung di lokasi, sebelum kekerasan itu menjadi fatal,” jelas Jerry.

Halaman Selanjutnya

Meski demikian, bagi Melanie, teknologi hanyalah satu bagian dari solusi yang lebih besar. Perubahan pola pikir masyarakat tetap menjadi kunci. Ia menilai publik perlu memahami bahwa hewan bukan objek hiburan, apalagi bahan konten kekerasan demi sensasi.

Halaman Selanjutnya

Tautan Sumber