Jumat, 20 Februari 2026 – 14: 00 WIB

Jakarta — Selama ini generasi muda kerap dicap boros dan lebih mementingkan gaya hidup dibandingkan perencanaan keuangan. Liburan, nongkrong, hingga belanja fesyen sering dianggap sebagai prioritas utama mereka.

Pengeluaran Ini Perlu Dipersiapkan di Bulan Ramadhan, Jangan Sampai Bikin Dompet Jebol!

Namun anggapan tersebut kini semakin terbantahkan oleh data dan kisah nyata anak muda yang justru agresif menabung serta berinvestasi.

Lonjakan harga rumah, gaji yang stagnan, serta ketidakpastian ekonomi membuat Generasi Z semakin sadar bahwa stabilitas finansial tidak bisa ditunda. Mereka memilih menyusun anggaran, membangun portofolio investasi, dan mempersiapkan dana pensiun sejak usia muda.

img_title

Ekonomi RI Makin Ditopang Sektor Keuangan, OJK: Rasio Aset & Produk Tembus 184 % dari PDB

Menurut penyedia tabungan Scottish Friendly, anak muda di Inggris, dua kali lebih mungkin meningkatkan jumlah tabungan pada 2025 dibandingkan generasi yang lebih tua. Riset NatWest juga menunjukkan 69 persen Gen Z yang lahir antara 1997 hingga 2012 memiliki anggaran keuangan pribadi, sementara pada generasi Infant Boomers angkanya hanya 42 persen.

“Financier muda khususnya tidak menghamburkan uang untuk kemewahan, melainkan berpikir jangka panjang,” kata Kepala platform investasi Finimize, Carl Hazeley, sebagaimana dikutip dari Telegraf Jumat, 20 Februari 2026

img_title

Geopolitik Makin Memanas, OJK Waspadai Lonjakan Volatilitas Pasar Keuangan Global

“Perubahan ini mungkin merupakan hasil dari perubahan kebiasaan selama pandemi, ketika banyak dari mereka mulai berinvestasi, atau meningkatnya kesadaran akan pentingnya perencanaan pensiun,” katanya.

Fenomena transfer kekayaan besar dalam keluarga yang diperkirakan mencapai ₤ 5, 5 triliun dalam 30 tahun ke depan, atau sekitar Rp 124 773 triliun, juga turut mendorong kebiasaan menabung generasi muda.

“Kami telah melihat tren yang meningkat dalam keluarga yang mendorong generasi muda untuk menabung, sering kali melalui pemberian tunggal atau beberapa kali dari waktu ke waktu,” ungkap Kepala pajak firma hukum Edwin Coe, Sean Bannister.

Konten tentang tabungan dan investasi di media sosial juga berperan. “Meskipun wajar untuk meragukan kualitas dan akurasi unggahan semacam ini, serta tentu saja motivasi pihak yang memproduksinya, hal tersebut telah menciptakan percakapan di kalangan kelompok usia ini yang sebelumnya mungkin lebih berfokus pada karier sebagai sumber utama keamanan finansial mereka,” sambung Bannister.

Adam Mlamali, 24 tahun, menjadi contoh nyata disiplin finansial sejak dini. Pada 2024, ia membeli rumah tiga kamar seharga ₤ 200 000 atau setara Rp 4 537 200 000 dan menghabiskan ₤ 50 000 atau sekitar Rp 1 134 300 000 untuk renovasi.

Halaman Selanjutnya

Kini, ia telah mengumpulkan lebih dari ₤ 100 000 atau sekitar Rp 2 268 600 000 dalam bentuk tabungan dan investasi. “Berada di lingkungan para profesional keuangan, semua orang di sekitar saya selalu membicarakan investasi dan membangun bisnis sendiri. Saya sangat penasaran dengan angka dan information.”

Halaman Selanjutnya

Tautan Sumber