Kamis, 19 Februari 2026 – 20:25 WIB
Jakarta – Anggota Komisi I DPR RI, Dave Laksono menilai kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Washington D.C, Amerika Serikat (AS) pada Februari 2026 tak hanya sekadar seremoni jabat tangan, melainkan
pengejawantahan dari visi besar Swasembada Energi dan upaya hilirisasi tanpa henti.
Didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, agenda Indonesia di Gedung Putih dan Departemen Energi AS membawa misi strategis, yakni memastikan bahwa kekayaan alam Indonesia dikelola dengan teknologi tercanggih dan modal terkuat guna menggerakkan industri dalam negeri.
“Inti pertemuan memutus rantai impor, mengokohkan ketahanan. Fokus utama yang dibawa Menteri Bahlil adalah stabilitas pasokan energi nasional,” kata Dave Laksono dalam keterangannya, Kamis, 19 Februari 2026.
Dalam berbagai pertemuan dengan Amerika Serikat, Indonesia berhasil mengamankan komitmen investasi senilai US$ 3,5 miliar khusus untuk revitalisasi sumur-sumur minyak tua melalui teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR).
Sebagaimana disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam keterangannya di Washington, langkah ini diproyeksikan mampu menambah produksi hingga 80.000 barel per hari, sebuah angka yang signifikan bagi penghematan devisa negara.
“Salah satu pencapaian paling krusial dalam kunjungan ini adalah pengakuan AS terhadap posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis. Menteri Bahlil melobi keras agar produk turunan nikel dan tembaga Indonesia mendapatkan akses pasar yang adil di bawah kebijakan hijau AS,” ujar Dave.
Dengan komitmen investasi baru senilai US$ 4 miliar untuk pembangunan pabrik pemurnian (smelter) berteknologi HPAL (High-Pressure Acid Leaching), Indonesia tentunya siap memasok bahan baku baterai kendaraan listrik (EV) dengan standar lingkungan internasional.
“Ini adalah kemenangan telak bagi kebijakan hilirisasi yang selama ini
digelorakan pemerintah, membuktikan bahwa hilirisasi bukan lagi sekadar wacana, melainkan standar industri nasional yang diakui dunia,” kata Dave.
Ia mengatakan Indonesia juga memaparkan peta jalan (roadmap) transisi energi yang pragmatis. Gas alam diposisikan sebagai jembatan utama menuju target Net Zero Emission.
“Dengan dukungan pendanaan dari lembaga keuangan AS sebesar US$ 2,8 miliar, proyek pipa gas trans-nasional dan terminal LNG akan dipercepat untuk memastikan kawasan industri di Jawa dan Sumatera mendapatkan energi
bersih dengan harga kompetitif-targetnya di bawah US$ 6 per juta british thermal unit (MMBTU),” jelasnya.
Halaman Selanjutnya
Dave mengatakan, kunjungan tersebut menandai pergeseran gaya diplomasi ekonomi Indonesia yang lebih berani, lebih teknis, dan sangat berorientasi pada hasil.









