Jumat, 20 Februari 2026 – 08:57 WIB

Jakarta – Industri perbankan nasional masih memiliki ruang yang solid untuk menopang pertumbuhan kredit ke depan dengan kondisi likuiditas dan permodalan yang kuat dan memadai. Namun demikian, akselerasi penyaluran kredit saat ini menghadapi tantangan, terutama dari sisi permintaan (tuntutan) seiring sikap tunggu dan lihat dunia usaha dan daya beli yang belum pulih sepenuhnya di seluruh segmen.



Bos BI Pede Ekonomi RI Kuartal I-2026 Bakal Meroket, Simak Indikatornya

Pandangan tersebut disampaikan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Hery Gunardi dalam acara Pandangan Ekonomi 2026 yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan pada Kamis (19/2). Acara tersebut turut dihadiri oleh Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu, serta Kepala Eksekutif Standard Chartered Donny Donosepoetro.

Dalam pemaparannya, Hery menjelaskan bahwa secara fundamental, industri perbankan memiliki ruang yang memadai untuk menopang pertumbuhan kredit ke depan secara bijaksana dan berkelanjutan. Dari sisi likuiditas, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) menguat hingga 11,4% YoY, dengan rasio Rasio Pinjaman terhadap Deposito (LDR) yang terjaga di kisaran 84% YoY. Permodalan industri juga tetap kuat dengan Rasio Kecukupan Modal (CAR) berada di level 26%, jauh di atas ambang batas ketentuan minimum regulator.


img_title

OJK Kasih Bukti Kontribusi Sektor Keuangan ke Perekonomian Terus Meningkat

“Namun demikian, pertumbuhan kredit secara tahun ke tahun hingga Desember 2025 masih berada pada level lajang digit. Menurut Bank Indonesia, salah satu faktor terjadinya perlambatan kredit saat ini adalah dipengaruhi faktor tuntutan,” ucap Hery.

Mengacu data Bank Indonesia tercatat bahwa permintaan kredit baru menurun di sebagian besar segmen, terutama pada kredit konsumsi yang turun dari 62,9% menjadi 13,4%, serta segmen UMKM yang semula 78,4% menjadi 58,8%. Sedangkan, pinjaman yang belum dicairkan pun meningkat secara rata-rata menjadi 10,22%.


img_title

Perdana di RDG BI, Thomas Jamin Ketahanan Perbankan RI Kuat dari Tekanan Eksternal

“Artinya, fasilitas kredit yang telah disetujui oleh bank serta likuiditas yang tersedia sebenarnya masih memadai, namun realisasi penarikan tertahan. Kondisi ini mencerminkan sikap kehati-hatian (tunggu dan lihat) dari dunia usaha maupun rumah tangga, sebagai nasabah individu. Jadi tantangannya bukan pada memasok dana, tetapi pada kepercayaan dan prospek usaha ke depan. Adapun, yang dibutuhkan bukan sekedar likuiditas tambahan, tetapi penguatan keyakinan pelaku usaha agar ekspansi kembali berjalan,” papar Hery.

Halaman Selanjutnya

Di saat yang sama, rasio kredit bermasalah alias nonperforming loan (NPL) pada UMKM mulai meningkat sejak Desember 2024 dan bertahan di level yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan tekanan arus kas pelaku UMKM belum sepenuhnya pulih. Kombinasi pertumbuhan yang melemah dan risiko kredit yang naik menuntut pendekatan yang lebih selektif berbasis mitigasi risiko.

Halaman Selanjutnya

Tautan Sumber