Minggu, 15 Februari 2026 – 19:24 WIB

Jakarta – Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Mandala Consulting meluncurkan white paper berjudul “Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar”.



Skema Kredit Panjang Jadi Opsi di Pameran Otomotif

Isinya yakni untuk mengeksplorasi kesenjangan akses kredit formal di Indonesia, sekaligus potensi kolaborasi antara perbankan dan platform pinjaman daring (pindar) atau fintech peer-to-peer (P2P) lending.

Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto mengatakan, white paper ini disusun setelah melalui forum presentasi temuan studi dan diskusi panel yang melibatkan regulator, institusi perbankan, asosiasi industri, ekonom, sektor asuransi, serta ekosistem Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA).


img_title

BRI Group Umumkan Pemangkasan Suku Bunga PNM Mekaar hingga 5 %, Wujudkan Asta Cita untuk Perkuat Ekonomi Rakyat

“White paper ini menegaskan bahwa perluasan akses kredit di Indonesia tidak dapat bergantung pada satu kanal pembiayaan saja,” kata Firlie dalam keterangannya, Minggu, 15 Februari 2026.

Ilustrasi pinjaman daring (pindar) disetujui.

Ilustrasi pinjaman daring (pindar) disetujui.


img_title

Hankook Salurkan Seratusan Unit Ban untuk Operasional Kendaraan Pelayanan Publik

Dia menambahkan, kolaborasi yang bertanggung jawab antara perbankan dan pindar, menjadi kunci penting untuk membuka pintu perluasan pembiayaan dan menjangkau segmen masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal.

“Dengan tetap menjunjung prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang kuat,” ujarnya.

Senada, Chief Executive Officer (CEO) Mandala Consulting, Manggala Putra Santosa mengungkapkan, peningkatan rasio kredit sangat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara melalui penguatan konsumsi, investasi, dan produktivitas.

Namun, tidak dipungkiri bahwa tantangan akses kredit di Indonesia belum bisa dilepaskan dari besarnya populasi yang belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem keuangan formal.

Data World Bank menunjukkan, sekitar 48 persen penduduk dewasa Indonesia masih underbanked, sementara data SNLIK OJK mencatat inklusi keuangan perbankan baru mencapai sekitar 70 persen pada 2025.

“Artinya, masih ada sekitar 30 persen orang dewasa di Indonesia masih financially excluded,” ujarnya.

Kegiatan peluncuran white paper ini menjadi ruang dialog lintas pemangku kepentingan, guna membahas implikasi kolaborasi bank dan pindar terhadap inklusi keuangan, pembiayaan produktif Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan.

Stagnasi akses kredit di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan yang terjadi saat ini, mencerminkan keterbatasan sistem pembiayaan formal dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama segmen underbanked. Pendekatan kolaboratif antara perbankan dan pindar saat ini menjadi semakin penting dalam rangka memperluas akses pembiayaan guna mendukung tercapainya target pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

KreditSatu

Lindungi Konsumen, AFPI dan KrediOne Serukan Pemanfaatan Pindar Legal dan Bijak

AFPI dan KrediOne berkomitmen memperkuat dan meningkatkan edukasi dan literasi keuangan, khususnya di industri pinjaman daring atau pindar demi melindungi konsumen.

img_title

VIVA.co.id

15 Februari 2026

Tautan Sumber