WJIS 2021 Akan Menjadi Momentum Untuk Pemulihan Ekonomi di Jawa Barat

Bandung, Kabarsebelas.com – Gubernur Jawa barat Ridwan Kamil Resmi meluncurkan West Java Investment Summit (WJIS) 2021, pada Agustus 2021 yang lalu secara hybrid, kegiatan tersebut berisi empat agenda utama yang bisa mendorong Jawa Barat menjadi destinasi utama investasi.

Yakni peluncuran West Java Invesment Hub (WJIH), Kampanye Nomor Induk Berusaha (NIB) lalu Peluncuran Cinematography of Investment Festival (Cifest) dan Sosialisasi dan Regulasi Kemudahan Berusaha.

Menindak lanjuti program tersebut, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa barat, akan kembali menggelar WJIS 2021 dengan mengambil tema “Navigating Post Covid World: Investment Growth For Reselient West Java.” Tema ini berangkat dari kondisi saat seluruh sumber perekonomian Jawa Barat terganggu oleh adanya pandemi Covid-19.

“Kita harapkan investasi bisa menjadi salah satu jalan keluar sekaligus menyongsong kondisi ekonomi pasca Covid-19. Kita juga menunjukan ketangguhan investasi di Indonesia, bahwa Jawa Barat investasinya mash tangguh,” kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Barat, Noneng Komara, melalui konferensi pers virtual, Senin (18/10/ 2021).

Menurutnya, WJIS 2021 bisa menjadi sarana mulai optimalnya kembali komunikasi antara investor yang hendak menanamkan modal ke Jawa Barat.

Agenda yang akan digelar 21-22 Oktober 2021 secara hybrid di Bandung tersebut juga diharapkan bisa membuka akses lebih luas bagi seluruh stakeholder investasi.

“Jabar sendiri masih menjadi provinsi primadona investasi asing maupun investasi dalam negeri. Realisasi investasi ke Jawa Barat pada semester  I Januari-Juni 2021 menempati peringkat 1 nasional,” katanya.

Dengan raihan ini maka Jawa Barat telah merealisasikan 56,90 persen dari target Rp 127,34 triliun yang diberikan Kementerian Investasi/BKPM RI. Sementara untuk target RPJMD 2018-2023, pihaknya berhasil merealisasikan 71,06 persen dari total target Rp 101,97 triliun.

Optimisme tersebut terutama disokong oleh perbaikan kinerja sektor industri pengolahan yang ditopang oleh peningkatan permintaan ekspor dan domestik, tercermin dari kapasitas utilisasi industri saat ini yang telah mencapai 79 persen, jauh lebih baik dibandingkan tahun 2020.(red)