Selasa, 2 Desember 2025 – 15:20 WIB

VIVA – Rektor Universitas Indonesia (UI), Prof. Heri Hermansyah hadir sebagai pembicara pembuka dalam Southeast Asia Forum 2025, konferensi internasional yang berlangsung pada 15–16 November 2025, di Guangzhou, Tiongkok.

Baca Juga:

Kunjungi Tiongkok, Rektor UI Prof. Heri Hermansyah Jalin Kerja Sama dengan 7 Universitas dan 1 Mitra Raksasa Industri

Konferensi ini hasil kerja sama South China Normal University (SCNU) dengan Guangdong International Cultural Exchange Centre dan Cross-Strait, Hong Kong and Macao Collaborative Innovation Alliance.

Forum ini mempertemukan para tokoh terkemuka dari seluruh kawasan untuk mendorong inovasi dan kolaborasi riset regional.

Baca Juga:

UI Gelar Tur Multisensori di Museum Nasional, Ajak Lansia Sentuh Prasasti Kuno

Prof. Heri memberikan paparan berjudul “75th Years Anniversary of Indonesia-China Strengthening Partnership by Strategic Triple Helix Collaborations”. Dia menyoroti pentingnya memperkuat kerja sama Indonesia–Tiongkok melalui model triple helix untuk menciptakan inovasi yang berdampak, pembangunan berkelanjutan, serta peningkatan daya saing kedua negara di tingkat global.

Rektor UI, Prof Heri Dilantik sebagai Advisor oleh SCNU

Baca Juga:

Gugat Cerai Deddy Corbuzier, Ini Profil Mentereng Sabrina Chairunnisa: Eks Putri Indonesia

“Perjalanan pembangunan Tiongkok memberikan banyak wawasan berharga bagi Indonesia,” katanya di hadapan ratusan peserta yang hadir langsung dan disaksikan 20.000 penonton secara daring.

Prof. Heri menggarisbawahi pesatnya investasi Tiongkok dalam infrastruktur dan teknologi selama satu dekade terakhir. Menurutnya, Indonesia–China perlu memperkuat kemitraan strategis karena keduanya memiliki potensi besar.

Indonesia memiliki populasi muda, pasar yang terus berkembang, serta sumber daya alam yang melimpah, sementara China unggul dalam manufaktur, teknologi 5G, kecerdasan artifisial, kendaraan listrik, dan energi hijau.

“Sinergi antara kapasitas Indonesia dan keunggulan teknologi China dapat melahirkan kemitraan yang kuat untuk mempercepat transformasi industri, memperkuat inovasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di kedua negara,” tambahnya.

Pentingnya Kolaborasi Triple Helix

Prof. Heri menekankan, kerja sama yang optimal hanya dapat dicapai melalui kolaborasi triple helix antara pemerintah, industri, dan universitas.

Pemerintah berperan menyediakan kebijakan, insentif, serta pembangunan infrastruktur yang kondusif; industri mendorong investasi, pengembangan produk, dan proses komersialisasi; sementara universitas menjadi pusat riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.

“Model kerja sama ini berhasil diterapkan di China, khususnya melalui kolaborasi antara Huawei dan Tsinghua University yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah, sehingga mampu mempercepat transfer teknologi dan penguatan ekosistem inovasi nasional,” ungkapnya.

Halaman Selanjutnya

Sebagai aktor kunci, UI berperan penting menciptakan pengetahuan dan riset multidisiplin, melakukan transfer pengetahuan dan teknologi kepada industri. UI juga memberikan rekomendasi kebijakan publik berbasis riset, serta mengembangkan talenta nasional yang kompetitif secara global.

Halaman Selanjutnya

Tautan Sumber