Rabu, 4 Februari 2026 – 16:11 WIB
Jakarta – Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Angka kejadiannya terus meningkat seiring perubahan gaya hidup masyarakat dan bertambahnya usia populasi.
Baca Juga:
Golkar Dorong Pemerintah Tingkatkan Teknologi Kesehatan untuk Tangani Kanker
Pemerataan akses layanan bedah jantung di Indonesia masih menjadi tantangan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga akhir 2022 hanya sembilan provinsi yang memiliki kemampuan melakukan operasi bypass jantung. Scroll lebih lanjut yuk!
Kondisi tersebut menyebabkan antrean pasien di sejumlah fasilitas kesehatan dapat mencapai 6 hingga 18 bulan. Pemerintah pun menargetkan agar pada tahun 2027 seluruh provinsi di Indonesia mampu melakukan operasi bypass jantung sebagai bagian dari upaya pemerataan layanan kesehatan jantung nasional.
Baca Juga:
Anak-anak Paling Rentan Terpapar, Kenali Gejala Awal hingga Fase Kritis DBD
Sementara itu, dr. Arina Yuli Roswitati, MS., MARS, menegaskan bahwa penyakit jantung masih menjadi tantangan kesehatan yang semakin kompleks dan membutuhkan kesiapan layanan yang menyeluruh serta berkesinambungan.
“Penguatan layanan jantung tidak hanya berfokus pada tindakan operatif, tetapi juga pada deteksi dini, kesinambungan perawatan, serta edukasi pasien agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Melalui pengembangan layanan jantung di Mitra Keluarga, khususnya di Mitra Keluarga Kelapa Gading, kami berupaya menjawab kebutuhan tersebut sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan jantung,” tutur Direktur Regional Mitra Keluarga Group, dr. Arina Yuli Roswitati, MS., MARS.
Baca Juga:
Kasus Radang Usus Meningkat di Indonesia, Banyak Pasien Terdiagnosis Fase Lanjut
Untuk mengatasi masalah penyakit jantung, program unggulan MICRO (Minimal Invasive Cardiac Surgery with Rapid Recovery) diluncurkan. Program ini merupakan protokol bedah jantung terintegrasi yang mengombinasikan teknik sayatan minimal, pemanfaatan teknologi modern, visualisasi presisi tinggi, serta pendekatan pemulihan cepat.
“Program ini dirancang untuk meminimalkan trauma operasi, memperpendek lama rawat inap, mengurangi nyeri, mempercepat mobilisasi pasien, menurunkan risiko komplikasi, serta meningkatkan kualitas hidup pascaoperasi. Melalui MICRO, pasien bypass jantung tidak lagi harus menghadapi ketakutan akan operasi besar dan masa pemulihan yang panjang seperti pada metode konvensional. Ini juga menjadi simbol evolusi layanan bedah jantung Mitra Keluarga menuju standar internasional,” jelas dr. Ronald Reagan, MM., MARS, Direktur Mitra Keluarga Kelapa Gading.
Di tengah tantangan tersebut, RS Mitra Keluarga Kelapa Gading menegaskan perannya dalam menghadirkan solusi layanan jantung modern dengan menggelar acara inaugurasi atas pencapaian lebih dari 100 tindakan MICS-CABG (Minimally Invasive Coronary Artery Bypass Grafting) atau bypass jantung minimal invasif yang berhasil dilakukan dalam kurun waktu kurang dari 10 bulan.
Halaman Selanjutnya
Pencapaian ini menempatkan RS Mitra Keluarga Kelapa Gading sebagai salah satu pusat layanan bedah jantung minimal invasif terdepan di Indonesia. Hal tersebut sekaligus memperkuat komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan yang lebih aman, presisi, dan berorientasi pada pemulihan cepat sesuai standar global.













