Rabu, 21 Januari 2026 – 15:10 WIB

Jakarta – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin terasa di dunia kerja global. Mulai dari chatbot layanan pelanggan hingga sistem otomatisasi administrasi, teknologi ini kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan bagian inti dari operasional banyak perusahaan.

Baca Juga:

Elon Musk Bikin Geger! Ramal 20 Tahun Lagi Manusia Tak Perlu Kerja dan Uang Kehilangan Nilainya

Di satu sisi, AI menjanjikan efisiensi dan produktivitas. Namun di sisi lain, muncul kecemasan besar di kalangan pekerja tentang masa depan karier mereka.

Kekhawatiran tersebut semakin kuat di tengah kondisi ekonomi global yang tidak stabil. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), perlambatan konsumsi, serta ketidakpastian geopolitik, membuat banyak pekerja mempertanyakan keamanan pekerjaan mereka.

Baca Juga:

Bank Mega Syariah Sebut Nasabah Gen Z dan Milenial Mulai Dominasi Portofolio Tabungan Haji

Survei terbaru Randstad mengungkap bahwa mayoritas pekerja global sudah merasakan bayang-bayang AI di tempat kerja. Empat dari lima pekerja percaya bahwa kecerdasan buatan akan memengaruhi tugas harian mereka.

Kekhawatiran ini paling tinggi dirasakan oleh pekerja muda, khususnya Generasi Z, seiring meningkatnya penggunaan chatbot dan otomatisasi oleh perusahaan. Laporan tahunan Workmonitor Randstad juga mencatat lonjakan signifikan dalam kebutuhan keterampilan baru.

Baca Juga:

Viral! Ada Panti Pensiun untuk Gen Z di Malaysia, Segini Harganya

Lowongan kerja yang membutuhkan keahlian “agen AI” melonjak hingga 1.587 persen. Data survei menunjukkan bahwa AI dan otomatisasi semakin banyak menggantikan pekerjaan dengan kompleksitas rendah dan bersifat transaksional.

Sebagai salah satu perusahaan rekrutmen terbesar di dunia, Randstad melakukan survei terhadap 27.000 pekerja dan 1.225 perusahaan. Studi ini juga menganalisis lebih dari 3 juta lowongan pekerjaan di 35 pasar global, sehingga memberikan gambaran luas tentang arah perubahan dunia kerja.

Temuan ini muncul di tengah tekanan besar pada pasar tenaga kerja global. Banyak perusahaan melakukan pemangkasan karyawan akibat melemahnya sentimen konsumen. Situasi ini diperparah oleh perang dagang dan kebijakan luar negeri agresif Amerika Serikat di bawah Donald Trump, yang mengguncang tatanan ekonomi global.

Perusahaan teknologi yang berfokus pada AI mulai menggantikan tenaga kerja dengan otomatisasi. Hal ini terjadi meskipun banyak perusahaan masih menunggu hasil nyata dari investasi besar-besaran di sektor AI, yang diperkirakan akan membentuk dunia bisnis selama bertahun-tahun ke depan.

Menariknya, survei Randstad menunjukkan bahwa sikap pekerja terhadap AI tidak sepenuhnya negatif. Banyak karyawan merasa antusias dengan potensi teknologi ini, namun tetap menyimpan kecurigaan terhadap motif perusahaan.

Halaman Selanjutnya

“Apa yang umumnya kami lihat di kalangan karyawan adalah mereka antusias terhadap AI, tetapi mereka juga bisa bersikap skeptis dalam arti bahwa perusahaan menginginkan hal yang selalu diinginkan perusahaan, yaitu menghemat biaya dan meningkatkan efisiensi,” ujar CEO Randstad Sander van ’t Noordende, sebagaimana dikutip dari Indiana Express, Rabu, 21 Januari 2026.

Tautan Sumber