Dalam kasus eksploitasi dunia maya dan kekerasan dalam rumah tangga yang mengejutkan, polisi Rewa telah menangkap seorang pria bernama Shivam Sahu karena diduga merekam dan mengunggah video pribadi istrinya berdurasi 13 menit 14 detik ke situs web dewasa. Dia juga menghadapi tuduhan serius atas pelecehan mahar dan intimidasi kriminal.

Setelah penangkapannya, Sahu ditahan saat penyelidik memeriksa perangkat elektroniknya untuk mencari lebih banyak bukti penyalahgunaan digital.

Latar Belakang: Dari tuntutan mahar hingga penyalahgunaan digital

Tambahkan Zee News sebagai Sumber Pilihan

Korban menikah dengan Shivam Sahu pada 10 Mei 2025. Berdasarkan pengaduan polisi, pernikahan tersebut sejak awal bermasalah karena tuntutan mahar yang terus berlanjut.

Tekanan Finansial: Keluarga mengklaim bahwa dari ₹3 lakh yang diminta, ₹2 lakh telah dibayarkan di pesta pernikahan. Namun, Sahu diduga terus melecehkan istrinya hingga sisa ₹1 lakh.

Rekaman Non-Konsensual: Pada bulan Desember 2025, Sahu dilaporkan merekam video pribadi istrinya tanpa persetujuannya.

Eksploitasi Daring: Saat korban memprotes rekaman tersebut, Sahu diduga menggunakan rekaman tersebut untuk memerasnya sebelum mengunggah klip berdurasi 13 menit tersebut ke situs dewasa dan membagikannya kepada kerabatnya.

Konfrontasi dan penangkapan yang penuh kekerasan

Setelah videonya dipublikasikan, Sahu dilaporkan melarikan diri ke Mumbai untuk menghindari penangkapan. Situasi berubah menjadi kekerasan pada 12 Februari 2026, ketika ia diduga kembali ke rumah mertuanya di kawasan Mauganj.

Ancaman bersenjata: Sahu tiba di rumah dengan membawa senjata dan diduga mengancam keluarga korban.

Garis polisi: Petugas setempat disiagakan dan berhasil mengepung daerah tersebut, menangkap Sahu sebelum dia dapat menimbulkan kerugian.

Tindakan hukum dan investigasi forensik

Polisi Rewa telah mengajukan kasus berdasarkan Bharatiya Nyaya Sanhita (BNS) dan Undang-Undang Teknologi Informasi (TI).

Biaya: FIR mencakup bagian yang melibatkan pelecehan mahar, intimidasi kriminal, dan pembagian konten seksual pribadi tanpa persetujuan.

Bukti forensik: Smartphone Sahu dan perangkat digital lainnya telah diambil. Forensik akan menyelidiki apakah dugaan motif ingin menjadi bintang porno mengarah ke unggahan lain.

Meningkatnya tren eksploitasi dunia maya

Insiden ini menyoroti meningkatnya “revenge porn” dan pemerasan digital di India. Data Biro Catatan Kejahatan Nasional (NCRB) menunjukkan bahwa ribuan kasus kejahatan dunia maya terhadap perempuan dilaporkan setiap tahun, banyak di antaranya melibatkan penyalahgunaan konten pribadi untuk pemerasan atau mempermalukan publik.

Penasihat hukum: Lembaga penegak hukum menyarankan masyarakat untuk tidak meneruskan atau membagikan konten pribadi yang menjadi viral. Tindakan tersebut dapat dihukum berdasarkan UU TI. Para penyintas penyalahgunaan digital didorong untuk segera melaporkan kejadiannya melalui Portal Pelaporan Kejahatan Dunia Maya Nasional (1930).

BACA JUGA | Cek Fakta Video Viral Teh Pucuk 17 Menit: Mengapa Tautan Itu Penipuan Berbahaya

Tautan Sumber