Sabtu, 07 Februari 2026 – 12:00 WIB

Rumah warga di Godean, Sleman menggunakan genting. Foto: M. Sukron Fitriansyah/JPNN.com

jogja.jpnn.comYOGYAKARTA – Program gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto mulai menuai beragam tanggapan. Di satu sisi, program ini disambut antusias sebagai angin segar bagi perajin lokal. Namun di sisi lain, pakar mengingatkan adanya risiko pengabaian nilai sosial budaya dan arsitektur nusantara.

Program yang pertama kali dicetuskan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) ini bertujuan mengganti atap seng dengan genting di seluruh wilayah Indonesia.

Langkah tersebut diklaim sebagai upaya meningkatkan kualitas hunian sekaligus memberdayakan ekonomi rakyat.

Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Ashar Saputra menilai program ini tidak bisa dipukul rata.

Menurutnya, ada tiga aspek krusial yang harus dipertimbangkan, yaitu teknis, sosial budaya, dan keberlanjutan.

Ashar menekankan bahwa bentuk dan material bangunan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh identitas suku dan budaya.

“Itu bukan soal teknis atau estetika, tetapi soal keyakinan sosial budaya. Hal seperti ini tidak bisa diabaikan atau diseragamkan,” tegas Ashar, Kamis (5/2).

Ia mencontohkan rumah adat seperti Rumah Gadang di Sumatra Barat, Tongkonan di Toraja, hingga rumah adat di Nias dan Papua.

Wacana gentengisasi yang dicetuskan Presiden Prabowo Subianto bisa berdampak pada penyeragaman kultur dan budaya masyarakat Indonesia.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jogja di Google Berita

Tautan Sumber