Rabu, 3 Desember 2025 – 17:33 WIB
Jakarta – Presiden Prancis Emmanuel Macron akan melakukan perjalanan ke China pada pekan ini. Kunjungan tersebut bertujuan menurunkan tensi panas di tengah ancaman ekonomi dan keamanan dari Beijing.
Baca Juga:
Kiamat Internet dari Dasar Laut
Sebab, sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, di mana Paris turut menggantungkan sektor perdagangannya di tengah gejolak perdagangan global.
Menurut para analis, sebelumnya Macron telah berupaya menampilkan sikap tegas ketika bernegosiasi dengan China sambil berhati-hati agar tidak memicu ketegangan dengan Beijing yang terlihat semakin agresif dalam memperkuat posisinya hingga menguji hubungan perdagangan, keamanan, dan diplomatik.
Baca Juga:
Teknologi Baterai Mobil Listrik Bakal Makin Ngeri
“Dia harus menegaskan kepada para pemimpin China bahwa Uni Eropa akan merespons peningkatan ancaman ekonomi dan keamanan dari Beijing, sambil mencegah eskalasi ketegangan yang bisa berujung ke perang dagang besar-besaran dan keretakan hubungan diplomatik. Ini pesan yang tidak mudah untuk disampaikan,” kata Noah Barkin, analis China dari Rhodium Group kepada ReutersRabu, 3 Desember 2025.
China mengguncang Uni Eropa
Baca Juga:
Aset Kripto Dilarang, tapi Aktivitas Mining Makin Tinggi
Emmanuel Macron akan memulai kunjungannya dengan mengunjungi Forbidden City atau Kota Terlarang, Beijing, China, pada Rabu hari ini.
Keeesokan harinya, ia dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping. Kedua kepala negara tersebut juga dijadwalkan berjumpa dalam perjalanan menuju Chengdu, provinsi Sichuan, pada 5 Desember mendatang.
Kunjungan Macron ke China terjadi setelah kunjungan menegangkan Presiden Uni Eropa, Ursula von der Leyen, pada Juli 2025.
Saat itu, Ursula menyatakan bahwa relasi antara Uni Eropa dan China berada di tahap “titik balik” yang berpotensi berdampak pada perubahan besar.
Kunjungan Emmanuel Macron juga akan diikuti dengan kunjungan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Kanselir Jerman Friedrich Merz pada awal 2026.
Ketegangan hubungan dagang antara Uni Eropa dan China meningkat sejak ekspor murah negara Tirai Bambu tersebut, terutama sektor baja, tersingkir oleh pasar Amerika Serikat (AS).
Hal ini turut mengguncang sektor industri di Benua Biru. Uni Eropa pun khawatir dengan pertumbuhan tekonologi China, khususnya kendaraan listrik dan pengolahan mineral kritis, yang dapat mengancam pasokan bagi industri di sana.
Halaman Selanjutnya
Beijing memanfaatkan peluang untuk menampilkan diri sebagai mitra bisnis di tengah tarif perdagangan dari AS yang menekan arus perdagangan global.









