Seorang anggota parlemen Iran telah memperingatkan bahwa rudal negara mereka mampu menyerang Eropa dan suatu saat nanti mungkin akan menargetkan kota-kota di Amerika Serikat. Amir Hayat-Moqaddam, dalam wawancara dengan media Iran pada hari Minggu, menekankan bahwa Tehran telah mengembangkan kemampuan serangan jarak jauh selama lebih dari dua dekade. Komentarnya muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, pemerintah Barat, dan Israel, dengan sanksi dan tindakan militer yang memperburuk situasi.
Kemampuan Rudal Iran yang Semakin Meningkat
Hayat-Moqaddam menyatakan, “Mungkin rudal kami berikutnya akan langsung menghantam Washington,” menegaskan potensi Iran untuk memperluas jangkauan militernya.
Mengapa Ini Penting?
Pernyataan ini menggarisbawahi risiko meningkatnya konflik yang lebih luas, karena Iran secara terbuka membahas kemampuan ofensifnya terhadap ibu kota Eropa dan Amerika Serikat. Negara-negara Barat telah berupaya untuk membendung program nuklir Iran, sementara Israel dan AS telah melakukan serangan yang bertujuan untuk melemahkan infrastruktur militer dan nuklir Iran. Retorika ini menambah urgensi dalam perdebatan mengenai sanksi, pengawasan nuklir, dan keamanan regional.
Jangkauan Rudal Iran dan Strategi Laut
Hayat-Moqaddam mengklaim bahwa rudal Iran saat ini sudah mampu mencapai target di mana pun di Eropa. “Bahkan sekarang, semua negara Eropa berada dalam jangkauan kami. Dengan rudal yang ada, kami dapat menyerang Prancis, Jerman, Inggris, dan seluruh Eropa Barat dan Timur,” katanya.
Ia juga menguraikan strategi laut yang dapat membawa kota-kota AS dalam jangkauan serangan. Dengan memposisikan kapal-kapal angkatan laut Iran lebih dekat ke AS, jarak ke kota-kota seperti Washington dan New York bisa dikurangi dari 10.000 kilometer (6.200 mil) menjadi sekitar 2.000 kilometer (1.240 mil), menjadikannya target potensial di masa depan.
Sanksi dan Tekanan Internasional
Hayat-Moqaddam menepis ancaman Eropa untuk mengaktifkan mekanisme “snapback” Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang akan mengembalikan sanksi yang ditangguhkan berdasarkan kesepakatan nuklir 2015. Prancis, Jerman, dan Inggris telah memperingatkan Tehran bahwa kecuali mereka sepenuhnya bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), langkah-langkah tersebut dapat diaktifkan kembali bulan ini.
Namun, anggota parlemen itu berargumen bahwa sanksi sudah mencapai efek maksimal sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir di bawah Presiden Donald Trump pada 2018. “Semua sanksi yang mungkin sudah diberlakukan terhadap negara kami,” tegasnya.
Tindakan Militer Israel dan AS
Ketegangan memuncak pada Juni lalu ketika Israel meluncurkan serangan mendadak yang menargetkan infrastruktur nuklir dan militer Iran. Operasi tersebut bertepatan dengan putaran keenam perundingan antara Washington dan Tehran. Di antara korban yang jatuh adalah kepala staf Iran dan beberapa ilmuwan nuklir senior.
Tak lama setelahnya, AS melakukan serangan udara terhadap tiga situs nuklir. Mantan Presiden Trump mengklaim bahwa serangan ini “menghancurkan” program nuklir Iran, meskipun pihak berwenang Iran membantah klaim tersebut. Tindakan terkoordinasi ini menunjukkan kesediaan Israel dan AS untuk menggunakan kekuatan militer di samping tekanan ekonomi untuk membendung Iran.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?
Dengan Iran menyatakan bahwa rudal mereka sudah bisa mencapai Eropa dan mungkin akan menargetkan kota-kota AS, pemerintah Barat menghadapi tekanan yang semakin besar untuk memberlakukan sanksi dan melindungi keamanan mereka. Beberapa bulan ke depan akan menjadi krusial dalam menentukan apakah diplomasi atau konfrontasi yang akan mendominasi fase berikutnya dari krisis ini.
Saat ketegangan meningkat, komunitas internasional akan memperhatikan langkah-langkah Iran selanjutnya dan respons dari Barat. Taruhannya tinggi, dan potensi konflik yang lebih luas semakin nyata.
Apa Kata Mereka?
Amir Hayat-Moqaddam, anggota parlemen Iran: “Mungkin rudal kami berikutnya akan langsung menghantam Washington. Kami dapat menargetkan Amerika dari laut. Pasukan Dirgantara Garda Revolusi telah bekerja selama 20 tahun untuk memungkinkan serangan ke Amerika dari kapal-kapal Iran. Meskipun kami belum mencapai teknologi ini, itu tetap dalam jangkauan kami.”
Kesimpulan
Peringatan dari anggota parlemen Iran ini menjadi pengingat yang jelas tentang meningkatnya ketegangan di kawasan. Saat Iran terus mengembangkan kemampuan rudalnya, komunitas internasional harus menavigasi keseimbangan yang rumit antara diplomasi dan pencegahan untuk mencegah konflik yang lebih luas.











