Aura militer Tiongkok yang tak terkalahkan mengalami pukulan yang signifikan ketika Beijing beralih dari sikap diam selama berbulan-bulan pada tanggal 15 Juni 2020. Bentrokan di Lembah Galwan menyebabkan pengakuan yang dikontrol ketat pada bulan Februari 2021 bahwa hanya empat tentara Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang tewas. Peristiwa ini tidak hanya mengungkap rapuhnya mesin propaganda Partai Komunis Tiongkok (PKT) namun juga mengungkapkan kekhawatiran yang lebih dalam di Tiongkok mengenai persepsi, kekuasaan, dan dominasi regional.
Konfrontasi mematikan di Ladakh timur menandai bentrokan militer paling serius antara India dan Tiongkok dalam lebih dari empat dekade. Dua puluh tentara India tewas dalam aksi di Lembah Galwan. Ini merupakan insiden yang memicu pengawasan global dan memperkuat postur India di sepanjang Garis Kendali Aktual (LAC).
Sementara New Delhi secara terbuka menghormati kejatuhannya, Beijing diam saja. Selama berbulan-bulan setelah bentrokan tersebut, pemerintah Tiongkok menolak mengonfirmasi adanya korban jiwa, sehingga menutup diskusi di media pemerintah dan platform sosial.
Tambahkan Zee News sebagai Sumber Pilihan
Keheningan yang berkepanjangan ini bukanlah suatu kebetulan. Legitimasi Partai Komunis Tiongkok sangat bergantung pada proyeksi kekuatan, kendali, dan keniscayaan, terutama mengenai PLA, yang digambarkan sebagai kekuatan modern, disiplin, dan tidak ada duanya di bawah kepemimpinan Xi Jinping.
Mengakui kerugian besar dalam bentrokan perbatasan yang kacau balau akan sulit dilakukan oleh pemerintah mana pun—terutama pemerintah yang sangat menekankan kekuatan dan kendali.
Pada bulan-bulan berikutnya, berbagai laporan internasional dan penilaian intelijen menunjukkan bahwa jumlah korban di Tiongkok mungkin lebih tinggi daripada empat kematian yang diakui secara resmi oleh Beijing. Beberapa perkiraan menyatakan jumlahnya bisa melebihi 38 orang, termasuk tentara yang dilaporkan tenggelam di Sungai Galwan selama pertempuran. Tiongkok tidak pernah mengkonfirmasi angka-angka tersebut. Namun kesenjangan antara pernyataan resmi dan penilaian dari luar menyebabkan meningkatnya skeptisisme.
Ketika Beijing akhirnya mengatasi masalah ini pada bulan Februari 2021, mereka melakukannya dengan hati-hati. Media pemerintah mengumumkan bahwa empat tentara PLA telah tewas dan menghormati mereka sebagai “martir.” Salah satunya, Qi Fabao, seorang komandan resimen, dihadirkan sebagai simbol keberanian dan pengorbanan.
Video, penghormatan, dan upacara publik menyusul di Tiongkok, menampilkan bentrokan tersebut sebagai kisah keberanian dan pengorbanan, bukan konfrontasi yang harus dibayar mahal.
Namun penundaan delapan bulan menimbulkan pertanyaan yang jelas. Mengapa menunggu begitu lama untuk memastikan adanya korban? Mengapa hanya mengakui empat kematian padahal laporan dari luar menunjukkan bahwa jumlahnya mungkin jauh lebih tinggi?
Bagi banyak pengamat, hal ini tidak terasa seperti transparansi. Rasanya seperti pengendalian kerusakan yang hati-hati. Dengan mengakui kerugian yang terbatas, Beijing mungkin berharap untuk tampil jujur dan juga melindungi citra kekuatannya.
Di dunia yang serba terhubung saat ini, jauh lebih sulit untuk mengontrol sebuah berita secara ketat. Citra satelit, peneliti independen, dan liputan media global yang terus-menerus membuat informasi menyebar dengan cepat. Ketika versi resmi Tiongkok tidak sesuai dengan penilaian luar, hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan.
Pemerintah di Asia Tenggara dan Indo-Pasifik menaruh perhatian. Keengganan untuk mengungkapkan kerugian sepenuhnya menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap hubungan masyarakat di dalam negeri masih menjadi pertimbangan bagi Beijing. Persepsi tentang kekuatan yang konstan dan tidak dapat disangkal adalah fungsi dari penyampaian pesan. Ketika pesan tersebut dipaksakan, hal itu secara diam-diam dapat memengaruhi cara orang lain menilai kekuatan Tiongkok.
Pengangkatan prajurit seperti Qi Fabao sebagai pahlawan dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa bangga dan solidaritas. Dan bagi kebanyakan orang Tiongkok, hal inilah yang terjadi. Namun, hal ini juga menjadi pengingat bagi pihak luar bahwa Tentara Pembebasan Rakyat, seperti kekuatan militer lainnya, tidak terkalahkan, khususnya di daerah-daerah yang sulit dan berada di dataran tinggi seperti Ladakh, di mana bahkan kekuatan militer paling kuat pun dapat berjuang. Pengakuan yang tertunda ini menunjukkan betapa seriusnya Beijing menghargai reputasinya. Ketika citra dominasi dipertanyakan, memulihkannya tidaklah mudah.
Bagi negara-negara yang menghadapi ketegasan Tiongkok di sepanjang perbatasan dan wilayah maritim yang disengketakan, Galwan memberikan pelajaran sederhana: persepsi bisa berubah. Kekuatan bukan hanya soal kemampuan militer—namun juga soal kepercayaan dan keterbukaan.
Dalam hal ini, pengakuan atas empat kematian membawa makna di luar angka itu sendiri. Hal ini mengungkapkan betapa kekuatan modern tidak hanya bertumpu pada kekuatan, namun juga pada keyakinan akan kekuatan tersebut. Dan ketika keyakinan tersebut melemah, meski hanya sedikit, keseimbangan kepercayaan di suatu kawasan bisa mulai berubah.










