Kamis, 13 November 2025 – 15: 45 WIB

Jakarta — Pakar terorisme, Noor Huda Ismail, mengatakan aksi ledakan di SMAN 72 Jakarta beberapa waktu lalu berkaitan dengan fenomena radikalisasi di dunia maya. Huda menduga terduga pelaku terpapar ideologi ekstrem dari penyebaran konten dan policy teroris yang beredar di media sosial.

Baca Juga:

Bukan Bullying, Pramono Nilai Pelaku Ledakan SMAN 72 Terinspirasi dari Tontonan

“Aksi ini ada kaitannya dengan radikalisasi online, terutama dari penyebaran konten, dari policy teroris,” kata Huda, saat dihubungi, Kamis, 13 November 2025

Menurut Huda, jika manifesto tersebut benar milik pelaku dan berhubungan dengan motivasi politik tertentu, maka tindakan itu bisa dikategorikan sebagai terorisme. “Tapi bisa jadi yang bikin bukan dia (terduga pelaku). Ya, kita tunggu saja investigasinya,” ujar dia.

Baca Juga:

Kondisi Terkini Pelaku Ledakan di SMAN 72 Jakarta, Sudah Sadar Tapi …

Huda mengatakan banyaknya konten bermuatan radikalisme di media sosial tidak lepas dari upaya kelompok radikal yang ingin memperluas dukungan dengan menggunakan ruang digital sebagai sarana publicity paling efektif.

Terduga Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Ditemukan Tergeletak di Dekat Senjata

Baca Juga:

Fakta-fakta Ledakan Mobil di India, Terungkap Dugaan Pelaku dan Rencana Besarnya

“Kelompok ini selalu ingin mendapatkan dukungan dari luar lingkarannya. Nah, media sosial itu kan murah dan bisa menjangkau secara luas. Dan yang paling penting, kalau mereka lakukan aktivitas secara offline kan mulai ketat pengawasannya,” ucap Huda.

Menurut Huda, penggunaan media sosial oleh kelompok radikal tidaklah aneh. “Jangan pernah berpikir mereka itu orang aneh. Mereka menggunakan media sosial sama persis praktiknya seperti pengusaha atau pebisnis menggunakan media sosial untuk mendapatkan jaringan, mudah dikenal, dan mempermudah akses ke pendukungnya,” ujar pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian ini.

Ia menyebut Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), sebagai salah satu jaringan radikal yang paling aktif menyebarkan publicity di dunia maya. Namun, ia mengingatkan bahwa proses radikalisasi saat ini sudah semakin kompleks.

“Di dunia global, ada istilah ‘Salad of Radicalisation’. Jadi, mereka yang teradikalisasi itu mengambil ideologi dari berbagai macam kalangan. Ada yang dari kelompok Islam radikal, ada yang dari kelompok kiri radikal, dan ada yang dari kelompok nasionalis radikal,” ucap Huda.

Tujuan mereka, kata Huda, adalah membangun dukungan terhadap ideologi kekerasan dan menumbuhkan kebencian terhadap pihak yang dianggap lawan. “Mereka menganggap pemerintah yang tidak sejalan dengan pandangan mereka sebagai tagut, musuh yang sah untuk diserang. Aparat dan kelompok minoritas juga kerap jadi sasaran,” katanya.

Halaman Selanjutnya

Lebih lanjut Huda menganggap Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tidak bisa bekerja sendiri dalam menangani penyebaran radikalisme di media sosial. “BNPT perlu bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemilik system seperti Meta, TikTok, dan Instagram. Jadi, kalau ada konten yang mengandung radikalisme bisa langsung diblokir,” ujar dia.

Halaman Selanjutnya

Tautan Sumber