Senin, 26 Januari 2026 – 10: 16 WIB
Jakarta — China membuat heboh dunia. Negeri Tirai Bambu itu mengumumkan desain kapal induk terbang bernama “Luanniao”– proyek ambisius yang kelak akan beroperasi sebagai senjata super luar angkasa untuk perang masa depan.
Baca Juga:
Media Filipina Soroti “Pasukan Troll China” dan Wajah Baru Operasi Pengaruh
Sebuah tayangan sekitar lima menit dari program militer “Lijian” di televisi pemerintah China, CCTV, menampilkan Luanniao dalam bentuk design 3 D fotorealistis.
Melayang di atas Bumi, melepaskan pesawat ruang angkasa, dan menembakkan senjata di orbit. Potongan tayangan itu beredar luas, termasuk melalui unggahan di YouTube.
Baca Juga:
Trump Ancam Kanada Kenakan Tarif 100 Persen Jika Dekati China
Namun, bagi banyak analis, Luanniao cuma konsep, meski sarat pesan politik.
Beberapa tahun silam, perusahaan kerdirgantaraan pelat merah Aviation Market Corporation of China (AVIC) mengklaim sedang merancang sistem pertahanan terpadu udara dan antariksa bernama “Nantianmen” atau Gerbang Surgawi.
Baca Juga:
Adam Presser, CEO TikTok yang Baru
Jantungnya adalah kapal induk terbang Luanniao, dengan panjang 242 meter, lebar bentang 684 meter, dan bobot lepas landas yang diklaim mencapai 120 ribu bunch.
Dari wahana ini, pesawat tempur nirawak luar angkasa yang disebut “Xuannü”, direncanakan meluncurkan rudal hipersonik untuk menyerang sasaran di atmosfer maupun orbit.
“Dalam bidang antariksa, China kini berada di posisi kedua, di bawah Amerika Serikat (AS), tapi jauh di atas Uni Eropa,” kata Juliana Süß, pakar keamanan antariksa dari Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Politik (SWP) Jerman, seperti dikutip dari situs DW Senin, 26 Januari 2026
Menurutnya, Beijing telah banyak menggelontorkan dana investasi. Antariksa bukan sekadar teknologi, melainkan simbol prestise dan elemen penting kemampuan militer.
Dengan bobotnya, kapal induk terbang tersebut akan melampaui kapal induk terbesar yang ada saat ini sekitar 20 persen. Dari sisi ukuran memang lebih pendek, tetapi bentangnya jauh lebih lebar dibanding kapal induk laut konvensional.
Sebagai perbandingan, USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar milik AS, berukuran sekitar 337 meter panjang dan 78 meter lebar, dengan berat sekitar 100 ribu heap termasuk bahan bakar, awak, dan perlengkapan.
Secara teknis, Luanniao berada jauh di luar kemampuan roket peluncur masa kini. Bahkan, jika dirakit secara modular di orbit, persoalan mendasar tetap belum terjawab.
Halaman Selanjutnya
Yaitu, pasokan energi, sistem pendorong, pendinginan, perlindungan dari sampah antariksa, dan terutama biaya. Kapal seberat 120 ribu bunch di orbit Bumi nyaris mustahil diwujudkan dengan kapasitas muatan realistis wahana peluncur seperti Starship milik SpaceX.











