Kamis, 5 Februari 2026 – 17:26 WIB
Jakarta – Mengonsumsi jamu mungkin identik dengan generasi X atau milenial. Namun siapa sangka belakangan promosi sensasional konsumsi jamu menjamur di kalangan gen Z.
Baca Juga:
Warna-warna lembut dan sentuhan oriental menjadi ciri khas fashion Gen Z menyambut Ramadhan dan Lebaran
Bahkan di akhir tahun lalu muncul di media sosial tren di atas meja jamu. Dalam sejumlah video yang tersebar di media sosial terutama TikTok terlihat anak-anak muda memesan beras kencur, kunyit asem, hingga brotowali di penjual jamu gendong. Hal ini menjadi tren solusi sehat dan hilang penat di kalangan gen z. Tren jamu di kalangan generasi Z juga sudah dibaca oleh Founder & Director PT. Acaraki Nusantara Persada, Jony Yuwono sejak tahun 2018 lalu.
”Ketika kita pertama kali buka Acaraki di tahun 2018 ekspektasi kita mungkin teman-teman kita yang sepuh yang datang. Tapi menariknya justru sebaliknya, anak-anak muda mengunjungi kafe jamu kami,” kata dia kepada awak media, Rabu 4 Februari 2026.
Baca Juga:
Cari Kerja Makin Susah, tapi Gen Z Masih Punya Harapan
Lebih lanjut terkait jenis jamu yang paling banyak diminati generasi Z, Jony mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil observasi internal, terjadi pergeseran selera di kalangan anak muda. Saat ini, gen Z mulai menyukai jamu otentik yang disajikan tanpa tambahan gula maupun campuran lainnya.
“Konsumen anak-anak muda cenderung kira-kira. 20-30 tapi yang umur 40, 60 ke atas sangat mengapresiasi mereka pesannya yang panas, hangat. Untuk anak-anak muda Sebelum pandemi mereka suka pesan yang segar-segar golden sparkling dengan soda atau dengan es krim. Setelah pandemi mereka mencoba yang pure jadi tanpa gula tanpa campuran lainnya. Jadi mereka coba murni kunyit dan asam tok. Itu suatu observasi yang unik,” kata dia.
Baca Juga:
Ogah Kerja Bareng Gen Z, Generasi Boomers Pilih Pensiun Lebih Cepat
Terkait tren meja terbuka yang belakangan ramai di kalangan generasi Z, Jony menyikapinya secara positif. Ia melihat, pascapandemi, semakin banyak masyarakat yang mulai mengonsumsi jamu seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan. Sejumlah jenis jamu seperti beras kencur, kunyit asam, temulawak, hingga wedang jahe pun dikenal dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh.
”Aku yakin pasti (semakin maju) karena setelah pandemi semua orang sudah mulai peduli terhadap kesehatan. Penyakit berevolusi dan kita tidak bisa bergantung terhadap obat tapi daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh tidak bisa didapat secara instan , tapi dibangun dari gaya hidup sehat, olahraga rutin termasuk konsumsi jamu yang rutin. Layaknya doa kesehatan jamu idealnya dikonsumsi rutin bagian dari gaya hidup mungkin alternatif kopi dan teh. Kalau dijadikan sebagai open table, mau dijadikan bar tender jamu atau seru-seruan anak muda terbuka sih,” kata dia.
Halaman Selanjutnya
Inovasi Jamu












