Senin, 19 Januari 2026 – 13:20 WIB

Jakarta – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja mengalami lonjakan signifikan pada 2026. Jika sebelumnya AI identik dengan eksperimen teknologi atau sekadar alat bantu membuat konten, kini penggunaannya telah menjadi bagian dari alur kerja harian di berbagai industri.

Baca Juga:

Slackbot, Bukan Chatbot Biasa

Perusahaan pun mulai bertanya bukan lagi perlu atau tidak, melainkan siapa yang paling siap dan paling aktif memanfaatkan AI.

Menariknya, anggapan bahwa generasi termuda otomatis menjadi pengguna AI paling dominan, ternyata tidak sepenuhnya benar. Data terbaru justru menunjukkan bahwa generasi milenial saat ini menjadi kelompok paling aktif dan strategis dalam penggunaan AI di lingkungan kerja.

Baca Juga:

Sergey Brin Geser Jeff Bezos di Daftar Orang Terkaya Dunia

Laporan Forbes mengungkapkan bahwa fase adopsi AI di perusahaan telah melewati tahap rasa ingin tahu. AI kini digunakan untuk mempercepat pengambilan keputusan, meningkatkan produktivitas, hingga menyederhanakan proses kerja lintas fungsi.

Tantangan utama bagi perusahaan bukan lagi soal teknologi, melainkan bagaimana memastikan AI benar-benar digunakan secara konsisten dan berdampak.

Baca Juga:

Restrukturisasi Jalan Terus, Ribuan Karyawan TCS Kehilangan Pekerjaan

McKinsey, dalam laporan terbarunya, menyebut fase ini sebagai AI super-agency, sebuah kondisi ketika AI tidak hanya hadir sebagai alat, tetapi terintegrasi dalam setiap lapisan pekerjaan. Namun, laporan itu juga mencatat bahwa banyak pimpinan senior belum sepenuhnya menyadari seberapa cepat AI telah digunakan di tingkat operasional.

Ilustrasi milenial diskusi soal investasi.

Ilustrasi milenial diskusi soal investasi.

Berdasarkan data McKinsey, generasi milenial saat ini menjadi pengguna AI paling aktif di dunia kerja. “Sekitar 62 persen milenial melaporkan memiliki tingkat keahlian AI yang tinggi. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Gen Z yang berada di kisaran 50 persen, serta baby boomer di atas usia 65 tahun yang hanya sekitar 22 persen,” tulis laporan tersebut, sebagaimana dikutip dari ForbesSenin, 19 Januari 2026.

Dominasi milenial ini tidak terlepas dari posisi mereka di organisasi. Sebagian besar manajer dan pemimpin tim saat ini berada di rentang usia 35–44 tahun, usia yang identik dengan generasi milenial. Mereka menggunakan AI bukan hanya untuk tugas individual, tetapi juga untuk mengelola tim, menganalisis data, hingga mengoptimalkan alur kerja.

McKinsey mencatat bahwa kelompok ini paling mungkin menggunakan AI secara rutin dalam pekerjaan, menjadi rujukan tim saat muncul pertanyaan tentang AI, serta mendorong penggunaan alat AI di level tim dan departemen.

Halaman Selanjutnya

Keunggulan milenial bukan hanya pada frekuensi penggunaan AI, melainkan cara mereka mengintegrasikannya ke dalam pekerjaan. Mereka berada di posisi yang memungkinkan penerjemahan strategi menjadi eksekusi.

Halaman Selanjutnya

Tautan Sumber