Jumat, 9 Januari 2026 – 19: 00 WIB

Jakarta — Pemerintah Tiongkok mengumumkan inflasi bulan Desember 2025 meningkat 0, 2 persen secara bulanan. Secara tahunan ( tahun ke tahun/yoy , inflasi negara Tirai Bambu melejit 0, 8 persen sekaligus menjadi degree tertinggi sejak Februari 2023

Baca Juga:

Senasib dengan Indonesia, Inflasi Tiongkok Bengkak pada Desember 2025 Imbas Harga Emas Perhiasan

Data Biro Statistik Nasional Tiongkok (Biro Statistik Nasional/NBS) melaporkan biang kerok bengkaknya inflasi di akhir tahun 2025 akibat lonjakan harga sayur segar dan emas perhiasan. Sementara itu, harga daging babi turun 14, 6 persen.

Di tengah kegagalan mencapai target inflasi di kisaran 2 persen, pemerintah Tiongkok mulai mengalihkan fokus kebijakan ke pembenahan sektor properti. Langkah ini diambil menyusul lemahnya permintaan domestik dan berlanjutnya tekanan terhadap kinerja sektor industri.

Baca Juga:

Bos The Fed: Pemangkasan Suku Bunga Lebih dari 100 Poin Tak Terelakkan di 2026

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi/properti.

Majalah resmi Partai Komunis Tiongkok, Qiushi Journal, menyerukan penerapan kebijakan yang lebih kuat dan menyeluruh untuk menstabilkan sektor properti. Pemerintah diminta tidak lagi mengandalkan pendekatan parsial dalam menangani krisis berkepanjangan di sektor tersebut.

Baca Juga:

Bursa Asia Bergejolak Jelang Pengumuman Inflasi Australia, Capitalist Abaikan Konflik AS dan Venezuela

Kepala Ekonom Macquarie, Hu, menilai pemerintah berpeluang meluncurkan langkah pelonggaran tambahan dalam waktu dekat. Kebijakan tersebut dapat mencakup pemangkasan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) serta pelonggaran aturan pembelian rumah.

Namun, Hu memperingatkan kebijakan ini belum cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan sektor properti. Ia memperkirakan penjualan rumah baru berdasarkan luas lantai turun 7 persen pada tahun 2026 atau lebih baik dari koreksi pada tahun sebelumnya sebesar 8 persen.

Sektor otomotif juga belum menunjukkan pemulihan. Produsen mobil Tiongkok kembali meluncurkan gelombang baru pemangkasan harga dan insentif pada awal tahun 2026 seiring permintaan yang masih lesu. Kondisi ini diperparah pencabutan sebagian insentif pajak untuk kendaraan listrik yang memenuhi syarat.

Tekanan harga di sektor otomotif juga tercermin dari penurunan harga di tingkat pabrik. Sepanjang tahun 2025, harga keluar pabrik industri otomotif turun 2, 8 persen.

Pada Desember 2025, harga kendaraan berbahan bakar bensin turun 2, 4 persen secara tahunan. Sementara itu, kendaraan energi baru melemah 2, 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di luar sektor properti dan otomotif, otoritas Tiongkok meningkatkan upaya meredam perang harga yang semakin intens di berbagai industri. Persaingan harga yang agresif dinilai telah menekan profitabilitas perusahaan.

Halaman Selanjutnya

Laba perusahaan industri dilaporkan anjlok 13, 1 persen secara tahunan pada November 2025 Persentase ini menjadi penurunan terdalam dalam lebih dari satu tahun terakhir.

Halaman Selanjutnya

Tautan Sumber