Selasa, 18 November 2025 – 17:00 WIB

Gaya Hidup, VIVA – Obat pereda nyeri menjadi salah satu obat yang paling banyak disediakan dirumah. Obat ini sering mejadi pilihan solusi cepat ketika sakit kepala. Namun hati-hati terlalu sering mengonsumsi obat pereda nyeri justru bisa memperburuk keadaan.

Baca Juga:

Biasa Minum Obat Pereda Nyeri saat Menstruasi? Dokter Ungkap Dampak Buruknya

Neurolog, yang juga pendiri Healthpil.com, Dr. Rahun Chawla mengimbau masyarakat untuk berhati-hati jika mengonsumsi obat pereda nyeri lebih dari 10 hingga 15 hari dalam sebulan.

“Kalau kamu sudah minum obat pereda nyeri lebih dari 10–15 hari dalam sebulan, STOP! Periksakan diri ke ahli saraf untuk mencari tahu penyebab utamanya,” kata dia dikutip dari laman Hindustan Times, Selasa 18 November 2025.

Baca Juga:

Siapakan Budget Lebih! Jepang Bakal Naikkan Pajak Untuk Turis Tahun 2026

Bahaya Tersembunyi dari Terlalu Sering Minum Pereda Nyeri

Menurut Dr Chawla, otak bisa terbiasa dengan obat-obatan tersebut, sehingga kamu merasa butuh meminumnya terus-menerus hanya untuk merasa normal. Kondisi ini bisa memicu sakit kepala akibat penggunaan obat yang berlebihan (MOH), merusak fungsi hati dan ginjal, bahkan membuat sakit kepala semakin sering dan lebih parah.

Baca Juga:

Habib Bahar Haramkan Dirinya Cinta ke Wanita Selain Fadlun Faisal, Netizen: Berarti Nikah Cuma…

“Minum obat pereda nyeri setiap sakit kepala tanpa tahu penyebabnya? Bagaimana kalau saya bilang obat pereda nyeri justru bisa memperparah keluhanmu? Sakit kepala akibat penggunaan obat yang berlebihan saat obat berubah menjadi penyakit itu sendiri,” tulisnya.

Lingkaran Setan Pereda Nyeri

Dr Chawla mengaku hampir setiap hari bertemu pasien yang terjebak dalam kondisi ini. Mereka minum obat pereda nyeri setiap hari tanpa diagnosis jelas atau tanpa rencana penanganan yang tepat. Ia menyebut fenomena ini sebagai epidemi sunyi yang sebenarnya bisa dibalik jika terdeteksi lebih awal.

Solusinya? Konsultasi ke ahli saraf, lalu dapatkan diagnosis yang tepat, dan ikuti penanganan yang sesuai penyebab aslinya. Otak dan tubuhmu akan sangat berterima kasih.

“Setiap hari di poliklinik, kami bertemu pasien sakit kepala kronis yang minum pereda nyeri hampir setiap hari selama berbulan-bulan tanpa konsultasi dengan ahli saraf, atau hilang dari kontrol, atau berpindah-pindah dokter tanpa riwayat yang jelas. Mereka akhirnya terjebak pada ‘universitas medis WhatsApp’,” kata dia.

Banyak Kasus Ternyata Bukan Sakit Kepala Biasa

Ia menambahkan bahwa sebagian besar pasien seperti ini sebenarnya menderita somatoform disorder, tension-type headache, atau migraine kronis. Namun, tidak jarang ditemukan kasus yang lebih jarang seperti:

Halaman Selanjutnya

IIH (Idiopathic Intracranial Hypertension) Vaskulitis sistem saraf pusat (CNS vasculitis) Pachymeningitis

Tautan Sumber