Jumat, 6 Februari 2026 – 20:00 WIB
Turki, PANJANG HIDUP – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa Turki sedang berupaya keras mencegah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran berkembang menjadi konflik baru di Timur Tengah. Pernyataan itu disampaikan di tengah perbedaan pandangan kedua negara terkait persenjataan rudal Iran, dan dinilai berpotensi menggagalkan kesepakatan yang tengah diupayakan.
Baca Juga:
Negosiasi Iran-AS di Oman Dimulai Setelah Tertunda Dua Jam, Komandan CENTCOM Ikut Nimbrung
Erdogan menilai pembicaraan langsung di tingkat pimpinan Amerika Serikat dan Iran akan sangat membantu. Hal itu diharapkan dapat menyusul perundingan nuklir tingkat teknis yang dijadwalkan berlangsung di Oman pada Jumat ini. Pernyataan tersebut disampaikan berdasarkan transkrip resmi yang dirilis kantor kepresidenannya pada Kamis.
Menurut Erdogan, Turki terus melakukan berbagai upaya untuk mencegah eskalasi. Selama bertahun-tahun, ia diketahui menjalin hubungan dekat dengan Presiden AS Donald Trump, sembari memperluas pengaruh diplomatik Ankara di Timur Tengah dan kawasan lain.
Baca Juga:
Trump Tuntut Iran Lucuti Kemampuan Nuklir di Negosiasi Oman, Ancam Opsi Militer Jika Menolak
Hingga kini, Iran dan Amerika Serikat masih berselisih terkait tuntutan Washington agar perundingan juga mencakup persenjataan rudal Iran. Teheran menegaskan hanya bersedia membahas program nuklirnya. Kebuntuan ini bahkan memicu ancaman saling serang udara dari kedua pihak.
Perbedaan pandangan mengenai cakupan dan lokasi perundingan juga memunculkan keraguan apakah pertemuan tersebut benar-benar akan terlaksana. Situasi ini membuka kemungkinan Presiden Trump merealisasikan ancamannya untuk menyerang Iran.
Baca Juga:
Jelang Negosiasi Nuklir di Oman, AS Serukan Warganya Segera Tinggalkan Iran
Saat ditanya pada Rabu lalu apakah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei perlu merasa khawatir, Trump mengatakan kepada NBC News, bahwa dirinya tak khawatir sama sekali.
“Saya rasa dia harus sangat khawatir. Ya, seharusnya begitu, mereka sedang bernegosiasi dengan kami,” kata Trump.
Usai pernyataan Trump tersebut, pejabat AS dan Iran menyebut kedua pihak sepakat memindahkan lokasi perundingan ke Muscat, Oman, setelah sebelumnya menyetujui Istanbul sebagai tempat pertemuan. Namun, belum ada tanda-tanda kesepakatan terkait agenda pembahasan itu.
Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan pada Kamis bahwa kekhawatiran akan eskalasi konflik dengan Iran menjadi topik utama dalam pembicaraannya selama kunjungan ke kawasan Teluk. Ia mendesak Iran menghentikan apa yang disebutnya sebagai tindakan agresif dan kembali ke meja perundingan.
Halaman Selanjutnya
Jerman, kata Merz, akan melakukan segala upaya untuk meredakan ketegangan dan mendorong stabilitas kawasan.












