Senin, 9 Februari 2026 – 12: 29 WIB
Jakarta — Kepercayaan lama masyarakat Jawa menyebutkan bahwa tidak semua pohon diciptakan semata-mata untuk memberi keteduhan. Sebagian pohon dipercaya menyimpan energi gelap, menjadi saksi tragedi, bahkan berfungsi sebagai perlintasan makhluk tak kasat mata. Salah satu yang paling dikenal dalam mitologi Jawa adalah Pohon Waru.
Baca Juga:
Berani Beda, Denny Siregar Jadikan Anak Down Disorder Pemeran Utama di Movie Tanah Runtuh
Mitos itulah yang menjadi napas utama film horor terbaru berjudul Waru. Film ini menghadirkan horor berbasis kearifan lokal, dengan cerita yang berangkat dari kisah-kisah mistis yang selama ini hidup dan dipercaya masyarakat. Scroll untuk information lebih lanjut, yuk!
Diproduksi oleh Adglow Photo bersama Suraya Filem, Movie Q, dan Megah Sinema Indonesia, Waru tidak sekadar menyuguhkan teror instan. Film ini berupaya menghidupkan kembali cerita-cerita yang selama ini hanya dibisikkan dari mulut ke mulut, mulai dari larangan menebang Pohon Waru, kisah orang hilang, kesurupan, hingga kematian misterius yang konon kerap terjadi di sekitarnya.
Baca Juga:
Lisa BLACKPINK Siap Jadi Ratu Romantis di Netflix, Tak Cuma Main Film tapi Juga Jadi Produser
Produser Aji Fauzi menggandeng Chiska Doppert sebagai sutradara, dengan Ery Sofid sebagai penulis skenario. Kolaborasi ini melahirkan horor yang tidak hanya mengandalkan visual menyeramkan, tetapi juga menghadirkan tekanan emosional dan spiritual yang membekas.
Deretan pemain lintas generasi memperkuat film ini, di antaranya Bella Graceva, Zikri Daulay, Jinan Safa, Josiah Hogan, Sharifah Husna, Dewi Amanda, Sean Mikhail, hingga aktris senior Yatti Surachman. Yatti memegang peran krusial sebagai sosok Iblis Waru, entitas jahat yang menjadi pusat teror dalam cerita.
Baca Juga:
Wagub Bang Doel Ungkap Asal Muasal Kawasan Kota Tua Jadi Lokasi Syuting Film Lisa BLACKPINK
Sutradara Chiska Doppert menegaskan bahwa keangkeran Pohon Waru bukan sekadar mitos tanpa dasar.
“Waru itu punya kanopi yang sangat lebar, membuat area di bawahnya gelap, sejuk, dan lembap. Kondisi ini dalam kepercayaan masyarakat sering diasosiasikan sebagai tempat yang nyaman bagi makhluk astral, karena minim cahaya dan relatif sunyi, Orang tua dulu melarang kita melewati pohon Waru di saat Magrib bahkan dilarang keras melihat keatas pohon saat melewatinya,” jelas Chiska kepada wartawan.
Kepercayaan tersebut semakin menguat karena banyaknya kisah nyata tentang orang yang tiba-tiba jatuh sakit, kerasukan, atau mengalami kejadian aneh setelah beraktivitas di sekitar Pohon Waru tertentu.
Halaman Selanjutnya
Penulis skenario Ery Sofid menambahkan bahwa Pohon Waru memang tumbuh luas di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Waru kerap ditemukan di pesisir pantai, tepi sungai, muara, hingga dataran rendah dan tinggi. Bahkan, jenis Waru Gunung dikenal tumbuh di wilayah pegunungan Jawa Tengah dan Jawa Timur, daerah yang juga kaya akan cerita mistis turun-temurun.












