Jumat, 9 Januari 2026 – 21: 02 WIB
Jakarta — PT Pertamina (persero) berkomitmen mendorong perubahan cara berpikir atau kerangka berpikir UMKM dalam menggembangkan usahanya agar terakselerasi naik kelas. Hal itu dilakukan dalam program Pertapreneur Aggregator (PAG).
Baca Juga:
3 Anak Usaha Pertamina Ini Bakal Dimerger, Dirut Simon Ketemu Purbaya Bahas Insentif
Melalui Program Pertapreneur Aggregator, Pertamina membangun UMKM yang tidak hanya tumbuh dari sisi omzet, tetapi juga matang secara organisasi. Dengan fondasi sistem dan kepemimpinan yang kuat, UMKM diharapkan mampu bertahan, berkembang, dan memberi dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menyampaikan bahwa penguatan UMKM dengan fondasi organisasi yang sehat sejalan dengan Asta Cita Poin 3, yaitu penguatan ekonomi rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Pulihkan Akses Air Bersih di Aceh Tamiang, Pertamina-Elnusa Serahkan Alat Bor Sumur Air
“UMKM perlu dipersiapkan agar mampu tumbuh sebagai organisasi yang tangguh. Dengan sistem yang kuat, UMKM tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan membangun ekosistem usaha yang berdaya saing,” ujar Baron dikutip dari keterangannya, Jumat, 9 Januari 2026
Seperti dirasakan Harumi Kartini, pendiri Harumi Fashion asal Jakarta, yang masuk dalam 10 besar Program Pertapreneur Aggregator 2025 PAG adalah program pendampingan UMKM berkelanjutan, yang dirancang untuk memperkuat ekosistem UMKM melalui kolaborasi, menembus akses pasar lebih luas, dan peningkatan kualitas usaha.
Baca Juga:
Penyaluran Pertalite di Serang Jadi Sorotan, Ini Penjelasan Pertamina
“Dulu segala hal bergantung ke saya. Sekarang saya sadar, bisnis agar bisa berkembang tidak boleh bergantung pada satu orang,” kata Harumi.
Harumi Kartini, mengawali usaha dalam layanan desain kemasan ( kemasan , aesthetic merek materi promosi electronic, hingga strategi visual storytelling.
Lewat usahanya, Harumi membantu para pelaku UMKM lain untuk tampil profesional dan menarik di mata pasar, dia kini mengembangkan usaha desain fashion untuk produk baju muslim, mukena, jilbab, yang kini diminati UMKM yang ingin memiliki ciri khas produk style.
“Saya memulai jasa desain ini karena banyak UMKM punya produk bagus, tapi visualnya kurang menarik. UMKM perlu memperhatikan kemasan dan desain produk untuk menarik konsumen,” jelas Harumi yang memandang rekan UMKM sebagai mitra strategis dalam mengembangkan usahanya.
Pemikiran tersebut muncul setelah Harumi digembleng di Pertapreneur Collector, bahkan Ia mulai keluar dari pola founder-centric menuju organisasi berbasis sistem, kepemimpinan, dan kolaborasi.
Halaman Selanjutnya
Bagi Harumi, perubahan tersebut terasa langsung dalam keseharian bisnis. Standarisasi kerja, pembagian peran, dan pengambilan keputusan yang sebelumnya bertumpu pada dirinya kini mulai dijalankan melalui sistem. Untuk pertama kalinya, Harumi Fashion menyelenggarakan yearly meeting sebagai sebuah organisasi, bukan sekadar usaha yang bergantung pada pemilik.









