Jumat, 12 September 2025 – 16:19 WIB
Jakarta, Viva – Direktur Utama PT Karya Citra Nusantara (KCN), Widodo Setiadi, akhirnya buka suara terkait polemik tanggul beton di laut Cilincing, Jakarta Utara, yang viral karena dianggap menghalangi akses nelayan.
Baca juga:
Nelayan Keluhkan Tanggul Beton di Laut Cilincing, KKP Panggil Perusahaan Pemilik
Widodo menegaskan struktur beton itu bukan pembatas laut, melainkan bagian dari proyek pembangunan pelabuhan.
“Kami bukan bikin pulau, lalu kami kavling-kavling, jual, bikin perumahan, tidak. Kami bikin pelabuhan, kami enggak bisa jual apa pun. Ini bukan milik kami, tapi milik pemerintah,” kata Widodo dalam konferensi pers di Kawasan KCN Marunda, Jakarta Utara, Jumat 12 September 2025.
Baca juga:
KKP Ungkap Pemilik dan Tujuan Dibangun Tanggul Beton di Laut Cilincing
Tanggul beton Cilincing, Jakarta Utara
Widodo menjelaskan, proyek pelabuhan KCN merupakan hasil kerja sama pemerintah dan swasta dengan skema konsesi. Pembangunan ini, menurutnya, tidak mengandalkan dana APBN maupun APBD, dan seluruh hasilnya nanti akan menjadi milik negara melalui Kementerian Perhubungan.
Baca juga:
HUT ke-77, Oso Curhat Pernah jadi Kuli Pelabuhan hingga Jual Koran
“Pemerintah tidak keluar uang Rp1 pun dalam proyek ini. Tentu proyek ini bisa menjadi percontohan di tempat-tempat lain dalam rangka menggerakkan roda ekonomi,” ujarnya.
Saat ini, progres pembangunan pelabuhan sudah mencapai 70 persen. Pier 1 di sisi kiri telah selesai, Pier 2 ditargetkan rampung pada 2025, sementara Pier 3—yang menjadi sorotan karena keberadaan struktur beton—masih dalam tahap pengerjaan.
Di tengah polemik, KCN juga mengklaim tetap memperhatikan keberadaan nelayan lokal. Widodo menyebut pihaknya telah mendata sekitar 700 nelayan dengan 1.100 kapal kecil yang beraktivitas di kawasan Cilincing.
“Pertanyaannya, apakah akses nelayan tetap ada? Karena kalau di gambar ini, kami sudah gambarkan akan ada 800 meter dari Pelindo untuk keluar masuk nelayan. Jadi nelayan juga tidak perlu lagi menghambat air dan bisa menghindari banjir,” tutur Widodo.
Ia menambahkan, KCN sedang berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyiapkan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) serta sarana terpadu bagi nelayan. Selain itu, program penanaman bakau juga digulirkan sebagai bagian dari komitmen menjaga lingkungan.
“Dalam pembangunan ini memang jarak tempuh pemancingan semakin jauh. Kami sedang mencarikan formula agar mata pencaharian nelayan tidak turun, minimal bisa terbantu dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
KCN menargetkan seluruh proyek pelabuhan selesai pada 2026, bertepatan dengan HUT ke-500 DKI Jakarta. Pada tahun itu, Pier 3 ditargetkan rampung bersamaan dengan pembangunan jalan tol New Priok Eastern Access (NPEA) yang terhubung langsung dengan Pelindo.
“Kami mencoba berkolaborasi. Ini yang sedang kami laksanakan. Tahun 2026 Pier 3 selesai, proyek jalan tol juga selesai. Dengan begitu, selain menopang logistik nasional, juga bisa menyerap banyak tenaga kerja,” tegas Widodo.
tvOnenews/Abdul Gani Siregar
Halaman Selanjutnya
“Pertanyaannya, apakah akses nelayan tetap ada? Karena kalau di gambar ini, kami sudah gambarkan akan ada 800 meter dari Pelindo untuk keluar masuk nelayan. Jadi nelayan juga tidak perlu lagi menghambat air dan bisa menghindari banjir,” tutur Widodo.










