Kamis, 29 Januari 2026 – 17: 46 WIB
Jakarta — Blok M sudah lama dikenal sebagai salah satu titik hidup Jakarta Selatan. Dari pagi sampai larut malam, kawasan ini tak pernah benar-benar tidur. Anak muda, pekerja kreatif, hingga keluarga city bertemu dalam ritme yang cepat– kopi pagi, rapat singkat, lalu nongkrong panjang selepas jam kerja.
Baca Juga:
10 Tahun Berdiri, Intip Transformasi Bisnis Mie Gacoan hingga Buka 10 Ribu Lapangan Kerja
Namun di tengah dinamika itu, muncul kebutuhan baru: ruang jeda. Tempat yang tidak bising, tidak terburu-buru, dan memberi pengalaman lebih dari sekadar makan atau nongkrong.
Di kawasan The Trunojoyo, konsep seperti itu mulai terasa. Bukan tempat yang mengejar tren viral, melainkan ruang yang mengajak pengunjung untuk melambat, berbincang, dan menikmati waktu.
Baca Juga:
Banyak Bisnis Kuliner Gulung Tikar, William Wongso Ajak Anak Muda Lebih Berani Bereksperimen
Menurut Rezha Raditya, pengamat gaya hidup metropolitan yang kerap terlibat dalam pengembangan konsep ruang kreatif, pola nongkrong generasi sekarang mulai bergeser.
“Gen Z itu tetap suka hangout, tapi mereka juga mencari tempat yang punya cerita dan bisa dinikmati tanpa harus selalu ramai atau gimmicky,” ujarnya.
Baca Juga:
Buku ‘Rasa Bhayangkara Nusantara’ Hadir di WEF Swiss 2026, Perkenalkan Kuliner RI ke Internasional
Nongkrong Tanpa Harus Riuh
Berbeda dari kebanyakan area Blok M yang identik dengan keramaian dan musik keras, ruang-ruang di The Trunojoyo justru terasa lebih dewasa. Interiornya hangat, ritmenya tenang, dan atmosfernya mendorong perc merged discussion– bukan sekadar datang, foto, lalu pergi.
Salah satu tenant kuliner Nusantara di kawasan ini– Puja Bumi Kenduri– hadir dengan pendekatan yang jarang ditemui di area nongkrong urban. Alih-alih mengejar konsep blend ekstrem, tempat ini memilih menjadikan masakan Indonesia sebagai pusat pengalaman, dengan penyajian yang kontekstual dan modern tanpa kehilangan ruh tradisi.
Pendekatan ini, menurut Cook Ray Villian, relevan dengan generasi muda saat ini.
“Anak muda sekarang lebih kritis. Mereka ingin tahu cerita di balik makanan– asal bahan, proses masak, sampai maknanya. Itu bukan fond memories, tapi bentuk kesadaran baru,” katanya.
Pengalaman yang Lebih Personal
Pengalaman nongkrong di tempat ini tidak hanya soal menu, tapi juga suasana. Product indoor alami, pencahayaan hangat, hingga cara staf berinteraksi dirancang untuk membuat pengunjung merasa diterima, bukan sekadar dilayani.
Halaman Selanjutnya
Beberapa pengunjung datang untuk makan bersama keluarga, sebagian lain memilihnya sebagai lokasi diskusi kerja, bahkan ada yang menjadikannya tempat rehat setelah beraktivitas seharian di Blok M.









