Seorang gadis berusia delapan tahun diinjak hingga tewas oleh seekor gajah liar yang menyerangnya beserta kawanannya.

Gadis tersebut, yang secara lokal bernama Citra, meninggal pada tanggal 3 November di provinsi Riau, Indonesia, setelah tiga hari koma setelah menderita cedera kepala parah dalam insiden tanggal 30 Oktober.

Anak tersebut melarikan diri bersama keluarganya dari rumah kayu mereka di dekat ladang jagung di distrik Rumbai Barat ketika mamalia tersebut– salah satu dari 10 kawanan– menyerbu ke arahnya dan menyerangnya, hingga mematahkan tengkoraknya.

Kapolsek Rumbai Barat Said Khairul Iman mengatakan kepada media setempat, kejadian tersebut bermula saat ayah Citra, Sardo Purba, mendengar suara keras di luar rumah mereka.

Mereka kemudian melihat tiga ekor gajah di depan bangunan, dan karena khawatir hewan-hewan besar tersebut dapat menyebabkan struktur rapuh tersebut runtuh, Purba mengumpulkan istri dan empat anaknya dan melarikan diri melalui pintu belakang.

Di tengah kekacauan tersebut, gadis muda tersebut dilaporkan terpeleset dan terjatuh, sebelum diinjak oleh seekor gajah yang sedang menyerbu.

Pihak berwenang sedang berupaya ‘untuk membimbing gajah-gajah tersebut kembali ke habitat aslinya sehingga mereka tidak lagi membahayakan penduduk setempat’, kata kepala polisi.

Pasca kejadian tersebut, Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau meyakinkan bahwa pihaknya telah ‘berkoordinasi dengan polisi dan pihak berwenang setempat untuk memastikan situasi tetap terkendali’.

Anak tersebut melarikan diri bersama keluarganya dari rumah kayu mereka di dekat ladang jagung di distrik Rumbai Barat ketika mamalia tersebut– salah satu dari 10 kawanan– menyerbu ke arahnya dan memukulnya hingga mematahkan tengkoraknya (documents foto)

“Kami menghimbau warga untuk tidak bertindak agresif dan provokatif terhadap gajah liar tersebut. Meskipun kami memahami ketakutan dan keterkejutan di kalangan masyarakat, tindakan agresif dapat memperburuk situasi,” kata badan tersebut.

Zulhusni Syukri, direktur Yayasan Rimba Satwa, yang memasang kalung GPS pada gajah phony di provinsi tersebut, mengatakan bahwa kejadian tragis tersebut merupakan pengingat akan penganiayaan yang dialami gajah di Riau di tangan manusia.

“Insiden seperti ini bermula dari trauma yang dialami gajah di Riau selama puluhan tahun akibat campur tangan manusia, termasuk diusir dari desa, terjebak dalam perangkap, dan ditakuti oleh kembang api,” ujarnya. SCMP

‘Trauma ini menyebabkan perubahan perilaku gajah dan membuat mereka lebih agresif.’

Syukri menjelaskan, ungkapan ‘gajah tak pernah lupa’ sebenarnya mengandung unsur kebenaran karena hewan darat tersebut diketahui kembali ke tempat konflik masa lalu dan menyerang orang-orang yang memiliki trauma sebelumnya melalui indra penciumannya yang kuat.

Namun para ahli menambahkan bahwa masalah terbesarnya bukan pada gajah itu sendiri, melainkan hilangnya hutan yang menyusut dengan cepat.

Dulunya merupakan environment alami gajah yang luas, hutan telah digantikan oleh perkebunan kelapa sawit, karet dan akasia, serta pabrik, sehingga memaksa gajah mendekati pemukiman manusia untuk mencari makanan.

“Jika mereka menemukan tempat tinggal di hutan, mereka sering mencoba masuk ke dalam untuk mencari beras, minyak goreng, atau mie yang mungkin ditinggalkan oleh petani atau pekerja perkebunan,” kata Syukri.

“Biasanya gajah phony takut pada manusia dan akan lari jika bertemu manusia di hutan atau di dalam rumah. Namun, jika mereka mengingat interaksi negatif sebelumnya, mereka akan berusaha melindungi diri atau membalas dendam’.

Dia menjelaskan bahwa ketakutan kini meningkat bahwa penduduk setempat akan mengambil tindakan sendiri dengan menyerang atau melukai gajah sebagai balasannya.

Selama beberapa tahun terakhir, terdapat beberapa kasus kekerasan terhadap gajah di seluruh Pulau Sumatera.

Pada tahun 2021, seekor gajah Sumatera dipenggal dan gadingnya dicuri di Banda Alam di provinsi Aceh dan, pada tahun 2022, seekor gajah betina yang sedang hamil ditemukan mati di provinsi Riau.

Diduga secara tragis ia diberi makan nanas beracun yang ditemukan di perutnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat beberapa kasus kekerasan terhadap gajah di seluruh Pulau Sumatera (file foto)

Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat beberapa kasus kekerasan terhadap gajah di seluruh Pulau Sumatera (file foto)

Gajah sumatera dianggap sangat terancam punah dan masuk dalam Daftar Merah Spesies Terancam Punah yang disusun oleh Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam.

Menurut data BKSDA Riau, hanya tersisa sekitar 300 ekor gajah sumatera di provinsi tersebut, dengan populasinya menurun sebesar 70 persen dalam 20 tahun terakhir.

Menurut Yayasan Rimba Satwa, tercatat ada lebih dari 200 konflik antara gajah dan manusia di seluruh Sumatera sejak tahun 2021, namun jarang terjadi konflik yang mengakibatkan kematian manusia.

Eko Yunanda, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) di Riau, mengatakan kepada This Week in Asia bahwa masih banyak yang perlu dilakukan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

“Upaya pencegahan konflik manusia-gajah yang dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan pemerintah daerah masih bersifat reaktif, baru bertindak setelah terjadi korban jiwa,” ujarnya.

“Selain itu, pengawasan terhadap jalur migrasi gajah di Riau masih sangat lemah sehingga mengakibatkan konflik berulang. Untuk mencegah kejadian serupa, penyelamatan dan perlindungan habitat gajah harus menjadi prioritas utama. Tanpa environment yang aman, gajah akan terus memasuki pemukiman dan perkebunan.’

Tautan Sumber