Selasa, 2 September 2025 – 07: 36 WIB
Jakarta, Viva — Belakangan ini, media sosial Indonesia ramai dengan singkatan ACAB dan angka 1312 Di platform seperti X (Twitter), banyak warganet menggunakan tagar #ACAB, # 1312, hingga #ACAB 1312 dalam unggahan mereka.
Baca juga:
AAUI Terima Pengajuan Klaim Asuransi Pagar DPR hingga Fasilitas Umum yang Rusak karena Trial
Secara modal, acab adalah singkatan dari Semua polisi adalah bstards yang bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti “Semua Polisi Adalah B * jingan”. Angka 1312 sendiri adalah representasi dari urutan huruf dalam alfabet: A (1, C (3, A (1, B (2
Meski kerap muncul dalam konteks meme hingga unggahan ringan, istilah ini sebenarnya memiliki sejarah panjang dan sarat makna protes.
Baca juga:
Live TikTok Sempat Diblokir, Kemendag Klaim Tak Rugikan Pedagang Online
Asal Usul dari Inggris
Baca juga:
Prabowo Dapat Laporan Ada Truk Bawa Petasan Besar saat Demo: Bayangkan Kalau Kena Alat Vital
Mengutip berbagai sumber, Selasa 2 September 2025 jejak awal penggunaan motto ini dapat ditelusuri ke Inggris pada age 1920 -an. Seorang leksikografer bernama Eric Partridge mencatat sebuah syair singkat yang berbunyi: “Aku akan menyanyikan lagu, ini tidak terlalu lama: semua tembaga adalah bstards!
Awalnya, ACAB belum berbentuk singkatan. Baru pada 1940 -an, di tengah gelombang trial buruh, istilah ini dikemas menjadi akronim empat huruf. Media Inggris, Daily Mirror, bahkan sempat menjadikannya tajuk berita ketika seorang remaja ditangkap karena mengenakan jaket bertuliskan ACAB. Dari sana, istilah ini makin populer di kalangan muda Inggris.
Memasuki tahun 1970– 1980 -an, ACAB melekat kuat pada subkultur skinhead dan musik punk. Salah satu band yang berpengaruh besar adalah The 4 -Skins, yang merilis lagu berjudul A.C.A.B. pada dekade 1980 -an. Lagu tersebut menjadikan motto ini simbol perlawanan kelas pekerja terhadap otoritas negara.
Dari musik punk dan subkultur ini, ACAB kemudian menyebar luas ke berbagai negara. Grafiti, poster, hingga nyanyian protes menjadi tool yang ikut mempopulerkannya. Band punk lain seperti The Last option, Sham 69, Cockney Turns down, hingga The Casualties juga kerap menggunakan motto ini.
Pada periode ini pula, mulai muncul “penyamaran” dengan kode angka 1312 agar pesan tidak terlalu off-color, namun tetap mudah dikenali oleh komunitas perlawanan.
Menjadi Motto Global
Dalam beberapa dekade terakhir, ACAB menjelma menjadi slogan protes international. Ia hadir dalam berbagai demonstrasi besar, mulai dari Arab Spring di Mesir, aksi pro-demokrasi di Hong Kong, hingga gelombang Black Lives Issue di Amerika Serikat pada 2020 setelah kematian George Floyd akibat kekerasan polisi.
Slogan ini juga marak di stadion sepak bola Eropa, dinding kota Prancis, hingga kereta bawah tanah New York. Tak hanya di jalanan, ACAB ikut hidup di ruang digital: dari meme TikTok, gambar satir di Instagram, sampai muncul di game Pet Crossing.
Dalam pandangan gerakan penghapusan polisi (activist activity), ACAB adalah alat komunikasi sederhana, mudah diingat, dan provokatif. Sebaliknya, dari sisi aparat, motto ini dianggap merusak citra kepolisian serta memperbesar jarak dengan masyarakat.
Hingga kini, ACAB atau 1312 masih dipakai sebagai simbol protes lintas generasi. Kesederhanaannya membuat motto ini bertahan, baik dalam bentuk grafiti, seruan di jalanan, hingga trending topic di media sosial.
Halaman Selanjutnya
Dari musik punk dan subkultur ini, ACAB kemudian menyebar luas ke berbagai negara. Grafiti, poster, hingga nyanyian protes menjadi medium yang ikut mempopulerkannya. Band punk lain seperti The Last option, Sham 69, Cockney Turns down, hingga The Casualties juga kerap menggunakan motto ini.












