
memuat…
Al-Qur’an menempatkan beberapa posisi anak di dalam kehidupan ini, salah satunya anak sebagai qurataayun atau penyejuk hati orang tuanya. Foto ilustrasi/ist
Islam memiliki pandangan yang berbeda terhadap anak jika dilihat dari perspektif Al-Qur’an. Apa dan bagaimana anak tersebut?
Anak adalah anugerah terindah sekaligus Kepercayaan (titipan) yang Allah Ta’ala berikan kepada setiap orang tua. Mereka adalah hasil cinta kasih kedua orang tuanya, buah hati, pelipur lara, pelengkap keceriaan rumah tangga, penerus cita-cita sekaligus investasi pelindung orang tua terutama ketika mereka sudah dewasa dan orang tua sudah berusia lanjut.
Seorang anak juga bisa menjadi penyelamat orang tuanya nanti di hari akhirat bahkan ada anak yang akan memasangkan mahkota di kepala kedua orang tuanya jika di dunia ini mereka mampu menghafal Al-Qur’an. Akan tetapi, anak juga bisa menjadi penghalang orang tua untuk masuk surga jika anaknya mengerjakan kemaksiatan di dunia.
https://www.youtube.com/watch?v=p31ybasps6i
Karena itu, Al-Qur’an menempatkan beberapa posisi anak di dalam kehidupan ini. Antara lain:
1. Anak sebagai pendingin (Qurrota a’yun)
Sebagai qurrata a’yun (lebih dingin) orang tuanya, ini adalah posisi anak terbaik sementara anak dapat menikmati dan mendinginkan kedua matanya. Mereka adalah anak -anak yang ketika ditampilkan untuk beribadah, seperti salat, mereka segera melakukannya.
Apabila diperintahkan belajar, mereka segera menaatinya. Mereka juga anak-anak yang baik budi pekerti dan akhlaknya, ucapannya santun dan tingkah lakunya sangat sopan, serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.
Seperti terungkap dalam Firman Allah Ta’ala:
Dan mereka yang berkata, Tuhan kita, berikan kita dari istri kita dan mengikatkan mata kita, dan membuat kita menjadi imam yang benar
“Dan mereka yang berkata:” Ya Tuhan kita, beri kita istri dan keturunan kita sebagai hati kita, dan menjadikan kita para imam bagi mereka yang takut “(Qs al-Furqan: 74)
Baca juga: Apa arti anak sebagai qurrata a’yun? Apakah itu tanda Anda?
2. Anak sebagai perhiasan duniawi (kehidupan Ziinatun)
Allah Ta’ala mengatakan:










