Kamis, 19 Februari 2026 – 18:14 WIB
Jakarta – Keputusan yang diambil Presiden Prabowo Subianto untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) dinilai tepat dan berani.
Miftah Maulana Habiburohman atau akrab disapa Gus Miftah mengatakan keputusan Prabowo itu adalah sebuah inisiatif internasional untuk perdamaian dan stabilisasi Gaza.
Selain itu, langkah RI yang bakal mengirimkan 5.000 hingga 8.000 personel TNI, merupakan langkah taktis yang berani, tetapi juga sangat tepat secara geopolitik dan kemanusiaan.
Menurutnya, langkah tersebut terlihat melampaui polemik permukaan dan memahami konsistensi kebijakan luar negeri bebas aktif Indonesia. Sebab, lanjut dia, selama bertahun-tahun, Indonesia konsisten mengimbau perdamaian di Palestina.
“Namun, krisis Gaza membutuhkan aksi nyata, bukan sekadar diplomasi retoris. Dengan bergabung ke BoP—yang diinisiasi dalam konteks rencana perdamaian yang didukung Amerika Serikat—Presiden mengambil opsi menjemput bola,” ujar dia dalam keterangannya, Kamis, 19 Februari 2026.
Dia menjelaskan posisi Indonesia tak lagi hanya sebagai pengamat atau pemberi bantuan logistik jarak jauh, tetapi menjadi aktor kunci yang duduk di meja perundingan dan turun langsung di lapangan. Indonesia menunjukkan bahwa salah satu bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.
Selain itu, Gus Miftah mengatakan keputusan mengirimkan 5.000 hingga 8.000 pasukan bukan langkah gegabah.
“Demikian itu adalah taktik yang tepat untuk menunjukkan profesionalisme militer Indonesia. Pasukan yang dikirim akan fokus pada bantuan teknis, zeni, dan medis untuk memulihkan infrastruktur Gaza,” ujar Gus Miftah.
Menurut Gus Miftah, Presiden Prabowo tetap berkomitmen kepada kemerdekaan Palestina. Ia menambahkan Indonesia bisa bertindak sebagai penjaga moral dalam Dewan Perdamaian.
Ia mengatakan bahwa pemerintah Indonesia tak memihak blok manapun, melainkan memihak pada perdamaian itu sendiri. Keikutsertaan itu, kata dia, adalah bukti bahwa Indonesia mampu berdialog dengan semua pihak, termasuk pihak yang berseberangan, demi menghentikan penderitaan rakyat Palestina.
“Keputusan Presiden Prabowo untuk masuk ke BoP mencerminkan karakter kepemimpinannya, berani mengambil risiko, tidak kaku pada pakem lama, dan berorientasi pada hasil. Prabowo memahami bahwa dalam diplomasi abad ke-21, negara yang terlalu ragu untuk mengambil posisi akan ditinggalkan oleh sejarah,” pungkas Gus Miftah.
Halaman Selanjutnya
“Karena itu, keputusan Presiden Prabowo masuk dalam Board of Peace adalah langkah taktis yang berani. Ini adalah kombinasi antara diplomasi tingkat tinggi dan aksi kemanusiaan di lapangan,” imbuhnya.










