Lanskap AI worldwide semakin dilihat sebagai perlombaan dua kuda antara Amerika Serikat dan Tiongkok, dimana sebagian besar infrastruktur, modal, dan sumber daya manusia terkonsentrasi. Kedua negara adidaya ini mengendalikan hampir 70 % peneliti AI terkemuka di dunia, dengan investasi swasta dan publik masing-masing mencapai ratusan miliar dolar. Dominasi ini tidak hanya bersifat ekonomi; Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa kedua negara bersedia mempersenjatai kemampuan teknologi mereka untuk mempertahankan keunggulan geopolitik.

Negara-negara kekuatan menengah harus mengubah strategi mereka dari sekadar bertahan hidup menjadi secara aktif memanfaatkan persaingan AS-Tiongkok. (Stok Shutterstock)

Kenyataan ini membuat negara-negara besar– India, Perancis, Inggris, Jepang dan negara-negara lain– berada dalam posisi yang berbahaya. Dapat dimengerti bahwa mereka khawatir dan tidak mau hanya menjadi penonton. Namun, kebutuhan komputasi dan modal yang sangat besar di age version frontier berarti bahwa tidak ada kekuatan menengah yang dapat berhasil melakukannya sendiri. Seperti yang telah diperingatkan oleh Utusan Teknologi PBB Amandeep Gill, melakukan hal tersebut berisiko menimbulkan ‘Divergensi Besar Kedua’, yang berpotensi membuat beberapa negara tertinggal jauh dari negara lain, seperti yang terjadi pada masa Revolusi Industri.

Apa yang Sebenarnya Dapat Dilakukan Negara-Negara Menengah?

Untuk mengatasi hal ini, negara-negara kekuatan menengah harus mengubah strategi mereka dari sekadar bertahan hidup menjadi secara aktif memanfaatkan persaingan AS-Tiongkok. Solusinya terletak pada pembentukan ‘aliansi minilateral’– kelompok kecil strategis yang mengumpulkan sumber daya untuk mempertahankan otonomi.

Tatanan dunia sedang beralih dari era badan-badan multilateral menuju era minilateral, dan tatanan dunia AI juga tidak terkecuali. Contoh utama– namun bukan satu-satunya– adalah kemitraan antara India, Perancis dan Jepang. Sumber daya manusia yang melimpah di India dan ekosistem startup yang dinamis dipadukan dengan komputasi rendah karbon di Perancis dan kekuatan perangkat keras Jepang yang presisi dapat menciptakan system kemampuan yang tidak dapat diabaikan oleh Amerika Serikat maupun Tiongkok.

Seperti yang saya argumenkan dalam buku saya, Video Game Teknologi Hebat persahabatan dan aliansi baru akan semakin dibangun berdasarkan teknologi yang saling melengkapi. Aliansi teknologi ini akan bertindak sebagai perisai geopolitik: walaupun sebuah kekuatan menengah mungkin ditindas oleh kontrol ekspor atau monopoli cloud yang dilakukan negara adidaya, blok kolektif mewakili pasar dan basis penelitian yang terlalu besar untuk ditembus.

Mengumpulkan Sumber Daya untuk Membangun Otonomi Strategis

Otonomi strategis dalam AI memerlukan pengumpulan bakat, anggaran penelitian dan pengembangan, serta klaster komputasi untuk mengembangkan tumpukan AI yang otonom. Hal ini memastikan bahwa infrastruktur penting tidak bergantung pada kotak hitam yang dikendalikan oleh Washington atau Beijing.

Sejarah menawarkan peta jalan untuk kolaborasi semacam ini. Pada tahun 1960 an, negara-negara Eropa menyadari bahwa mereka tidak dapat bersaing secara individu dengan raksasa kedirgantaraan Amerika. Dengan menggabungkan upaya Aérospatiale dari Perancis, Deutsche Plane dari Jerman, dan Hawker Siddeley dari Inggris untuk menciptakan Airbus, mereka mematahkan monopoli Amerika dan mengamankan kedaulatan industri. Demikian pula, CERN (Organisasi Eropa untuk Penelitian Nuklir, yang berbasis di Swiss) mengizinkan banyak negara untuk berbagi biaya astronomi untuk penelitian fisika partikel. Negara-negara menengah saat ini harus menerapkan logika ini pada AI.

Membangun Ancaman yang Dapat Dipercaya dari Peralihan Pilihan Teknologi

Menjadi ‘turn state’ di era AI berarti membangun pengaruh melalui kemitraan. Dengan bersama-sama membangun kemampuan AI yang kredibel, negara-negara kekuatan menengah akan memperoleh daya tawar kolektif dan kredibilitas untuk berpotensi mengubah pilihan teknologi. Hal ini akan menciptakan ancaman ‘peralihan’ yang nyata: jika AS mengancam untuk membatasi akses terhadap model-model terdepan atau memperketat ekspor chip, blok negara-negara kekuatan menengah dapat beralih ke model-model open-weight, atau arsitektur RISC-V rancangan Eropa. Pengaruh ini akan memaksa negara-negara adidaya untuk menawarkan persyaratan yang lebih baik, termasuk lebih banyak transfer teknologi dengan lebih sedikit ikatan.

Selain itu, karena kedua negara adidaya tersebut haus akan pasar konsumen dan perusahaan yang besar, blok kekuatan menengah yang bersatu dan terkoordinasi dapat menerapkan kebijakan ‘akses pasar untuk transfer teknologi’. Sebagai imbalan atas akses tersebut, negara-negara ini dapat mewajibkan perusahaan AI besar untuk membangun pusat information secara lokal, berbagi bobot design yang mendasarinya, berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan lokal, dan melatih insinyur lokal.

Melampaui Retorika: Daftar Yang Sulit Dilakukan

Penerapan logika yang diuraikan di atas sangatlah sulit, karena negara-negara menengah sering kali mendapat insentif untuk membelot dan mencari kesepakatan individual, seperti yang kita lihat dalam hal tarif. Untuk mengatasi godaan ini, negara-negara ini harus segera mengoperasionalkan kemitraan AI.

Mereka harus menciptakan ‘Usual Compute Reserve’– sebuah jaringan bersama yang terdiri dari pusat-pusat komputasi berkinerja tinggi yang tersedia bagi para start-up dan peneliti di blok tersebut, seperti halnya cadangan minyak strategis. Hal ini mengurangi ketergantungan yang saat ini mengikat mereka pada hyperscaler besar dan penyedia cloud. Mereka harus mengembangkan kumpulan talenta papan atas yang selaras secara strategis, melalui beasiswa dan program PhD bersama yang memungkinkan para peneliti di Tokyo, misalnya, untuk bekerja secara lancar dengan laboratorium di Bangalore. Sarana investasi bersama dapat membantu meningkatkan skala perusahaan yang muncul dari kerja kolaboratif semacam itu.

Selain infrastruktur, kekuatan menengah juga bisa menang dengan mengoordinasikan dan memimpin tata kelola dan keselamatan AI. Dengan menetapkan standar yang terbuka dan dapat dioperasikan di dalam negeri dan di berbagai organisasi standar internasional (ISO) seperti International Telecommunications Union (ITU), mereka dapat menciptakan lingkungan peraturan yang harus dipatuhi oleh perusahaan asing untuk beroperasi di pasar mereka. Hal ini akan memungkinkan mereka untuk membentuk industri worldwide tanpa harus memiliki GPU terbanyak.

Pentingnya Menghindari Kolonialisme Digital

Negara-negara kekuatan menengah saat ini sedang mempunyai peluang di papan catur worldwide, dan mereka harus memanfaatkannya. India AI Impact Summit 2026 menyediakan system sempurna untuk membangun jembatan kolaborasi lintas negara. Dengan membentuk aliansi minilateral, negara-negara seperti India, Perancis, dan Jepang dapat beralih dari target potensial ‘kolonialisme AI’ menjadi pilar strategis dan otonom dalam tatanan AI worldwide yang baru. Hal ini akan membantu mempersempit kesenjangan AI international.

Anirudh Suri adalah Handling Supervisor di India Net Fund, pembawa acara The Terrific Tech Video game Podcast dan peneliti nonresiden di Carnegie India

Tautan Sumber