Rabu, 18 Februari 2026 – 20: 00 WIB

Jakarta — Teknologi kendaraan listrik (EV) terus berkembang pesat, dan salah satu inovasi paling menarik saat ini adalah baterai sodium-ion, atau lithium-sodium ion battery.

Baterai Mobil Ini Diduga Berisiko Tinggi

Baterai ini menggunakan natrium (salt) sebagai bahan dasar pengganti lithium, yang selama ini menjadi komponen mahal dan terbatas.

ilustrasi pengisian baterai mobil listrik

ilustrasi pengisian baterai mobil listrik

img_title

Harga Mobil Listrik Fading Laku Awal 2026, Mulai Rp 199 Juta

Dengan sumber daya natrium yang melimpah, baterai ini berpotensi menurunkan biaya produksi, meningkatkan keamanan, dan membuat mobil listrik lebih terjangkau bagi masyarakat.

Mengapa Baterai Sodium-Ion Menarik

img_title

Mobil Baru Bakal Diwajibkan Punya Tombol Fisik

Prinsip kerja baterai sodium-ion mirip dengan baterai lithium-ion: ion bergerak antara elektroda untuk menghasilkan listrik. Namun, ada beberapa keunggulan utama:

  • Biaya lebih rendah: Natrium mudah diperoleh dari garam laut atau mineral, membuat baterai lebih murah.
  • Keamanan lebih tinggi: Sodium-ion lebih stabil secara kimiawi, mengurangi risiko kebakaran atau kegagalan termal.
  • Tahan suhu ekstrem: Baterai ini mampu bekerja lebih baik di cuaca dingin dibanding lithium-ion.
  • Ramah lingkungan: Bahan yang lebih aman dan rantai pasok sederhana membuatnya lebih berkelanjutan.

Siap Diproduksi Massal pada 2026

Pabrikan besar seperti CATL (Contemporary Amperex Modern Technology Co., Limited) telah mengembangkan baterai sodium-ion dengan densitas energi sekitar 175 Wh/kg, mendekati baterai lithium iron phosphate yang banyak digunakan saat ini. Produksi massal dijadwalkan mulai 2026, dengan baterai yang kompatibel untuk berbagai version EV.

Baterai sodium-ion telah melewati uji keselamatan nasional dan siap diintegrasikan ke kendaraan listrik tanpa perubahan desain besar, menjadikannya solusi praktis dan ekonomis bagi EV entry-level.

Bukan Pengganti, Tapi Pelengkap

Meskipun banyak keunggulan, baterai sodium-ion memiliki kepadatan energi lebih rendah dibanding lithium-ion, sehingga jarak tempuh EV bisa lebih pendek.

Namun, teknologi ini tetap dilihat sebagai pelengkap, terutama untuk mobil harian, EV terjangkau, dan pasar di negara berkembang. Inovasi desain terbaru juga terus meningkatkan kapasitas dan ketahanan jangka panjang baterai sodium-ion.

Tantangan yang Masih Harus Dihadapi

Produksi massal sodium-ion masih terbatas dibanding lithium-ion, dan penetrasi pasar international masih kecil. Meski begitu, kebutuhan akan baterai yang lebih murah, aman, dan ramah lingkungan membuat teknologi ini berpotensi menjadi bagian penting dalam evolusi kendaraan listrik.

Halaman Selanjutnya

Baterai sodium-ion adalah inovasi penting di dunia EV yang akan mulai diproduksi massal pada 2026 Dengan biaya lebih rendah, keamanan tinggi, dan sumber daya melimpah, baterai ini dapat membuka jalan bagi mobil listrik yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan.

Halaman Selanjutnya

Tautan Sumber