Senin, 16 Februari 2026 – 15: 19 WIB

Jakarta — Dalam masyarakat Indonesia yang plural, interaksi antarumat beragama menjadi bagian dari keseharian. Energy hari besar keagamaan, termasuk Tahun Baru Imlek, kerap menghadirkan pertanyaan yang sensitif sekaligus relevan: bolehkah seorang Muslim mengucapkan selamat kepada pemeluk agama lain?

Polda City Jaya Ketatkan Pengamanan Imlek 2026, 155 Personel Disiagakan

Di satu sisi, ucapan tersebut dipandang sebagai bentuk toleransi dan etika sosial. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran mengenai batasan akidah yang tidak boleh dilanggar.

Isu ini pernah dibahas secara gamblang oleh pendakwah ternama, Adi Hidayat. Dalam salah satu ceramahnya, ia menekankan bahwa persoalan ucapan selamat hari raya agama lain bukan sekadar perkara sopan santun, melainkan menyangkut prinsip keimanan.

img_title

Masih suka telat di depan orang solat? Nabi memberi peringatan keras

Menurutnya, setiap Muslim memiliki batas tegas dalam wilayah akidah.

“Mengucapkan selamat pada agama lain di luar keyakinan kita dalam keimanan kita sebagai muslim, itu tidak diperkenankan,” terang Ustaz Adi Hidayat, dikutip Senin 16 Februari 2026

img_title

12 Cara Mendatangkan Hoki di Tahun Baru Imlek: Tradisi yang Dipercaya Bawa Rezeki dan Kebahagiaan

Ia menjelaskan bahwa ucapan selamat yang terkait langsung dengan perayaan keagamaan berpotensi mengandung unsur pengakuan terhadap kebenaran teologis di luar Islam.

“Tidak haram mengucapkan selamat kepada A, selamat kepada B, di dalamnya ada unsur pengakuan, ada agama yang diperbolehkan selain Islam,” tegasnya.

Dalam pandangannya, titik persoalan terletak pada kemungkinan adanya legitimasi keyakinan lain dalam aspek teologis, bukan semata hubungan sosial antarindividu.

Meski demikian, Ustaz Adi Hidayat juga mengingatkan bahwa setiap pemeluk agama pada dasarnya meyakini ajarannya sebagai yang paling benar.

“Sebenarnya sama aja, yang non muslim juga meyakini kepercayaan mereka yang paling benar. Itu sebenarnya keyakinan standar setiap pemeluk agama,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara toleransi dan keteguhan iman.

“Itu indah dalam Islam, tidak ada paksaan dalam beragama. Kita tidak bisa memaksa orang. Tapi kita juga tidak bisa mengikuti keyakinan kita pada keyakinan orang lain,” lanjutnya.

Artinya, hidup berdampingan secara damai tetap harus dijaga tanpa mencampuradukkan prinsip keyakinan.
Sebagai landasannya, Ustaz Adi Hidayat merujuk pada firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 19

“Allah sudah bilang aku ridha, aku mendirikan Islam saja, tidak ada yang lain,” kata Ustz Adi Hidayat.

Halaman Selanjutnya

Ayat tersebut menjadi fondasi teologis bahwa seorang Muslim meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang benar di sisi Allah.

Halaman Selanjutnya

Tautan Sumber