Ketegangan antara Inter Milan dan Juventus masih tinggi menyusul insiden kontroversial wasit dalam kemenangan 3 – 2 Nerazzurri tadi malam.
Beberapa jam setelah pertandingan, John Elkann, chief executive officer Exor, dilaporkan menghubungi Gabriele Gravina untuk mengungkapkan ketidakpuasan Juventus terhadap wasit, seperti untuk TuttoMercatoWeb.
Iklan
Dari sudut pandang Bianconeri, penanganan momen-momen penting selama pertandingan dianggap tidak bisa diterima.
Secara khusus, momen dimana Pierre Kalulu diberi kartu kuning kedua setelah terlihat melakukan penyelaman oleh bek Inter, Alessandro Bastoni.
Gravina, presiden FIGC, telah mengadakan diskusi dengan kepala wasit Gianluca Rocchi untuk membahas insiden spesifik tersebut.
MILAN, ITALIA– 14 FEBRUARI: Pierre Kalulu dari Juventus bereaksi saat ia berjalan keluar lapangan setelah dikeluarkan dari lapangan oleh Wasit Federico La Penna (tidak digambarkan) karena pelanggaran kartu kuning kedua selama pertandingan Serie A antara FC Internazionale dan Juventus FC di Stadion Giuseppe Meazza pada 14 Februari 2026 di Milan, Italia. (Foto oleh Marco Luzzani/Getty Images)
Iklan
Drama antar Juventus menambah masalah ketidakstabilan FIGC & AIA
Situasi ini terjadi dengan latar belakang ketidakstabilan di dalam AIA.
Badan wasit sedang menunggu keputusan definitif dari Pengadilan Banding Federal mengenai presidennya, Antonio Zappi, yang menerima skorsing 13 bulan pada tingkat pertama.
Keputusan banding dijadwalkan pada 18 Februari. Jika penangguhan tetap dilakukan, AIA mungkin akan ditempatkan di bawah pemerintahan sementara.
Ketua AIA Gianluca Rocchi (Foto oleh Paolo Bruno/Getty Images)
Presiden FIGC Gravina juga diketahui telah menyampaikan kekhawatiran yang lebih luas kepada Rocchi, terutama mengenai simulasi yang berulang kali dilakukan selama Inter-Juventus.
Iklan
Menurut sumber FIGC, perilaku seperti itu berisiko memengaruhi wasit dan meningkatkan kemungkinan melakukan kesalahan, sekaligus merusak citra sepakbola Italia.
Ada penekanan lebih lanjut pada potensi manfaat penggunaan VAR dan dukungan teknologi yang lebih luas dalam situasi yang melibatkan kesalahan yang jelas dan nyata.
Hal ini akan dievaluasi melalui jalur kelembagaan yang sesuai.










