Minggu, 15 Februari 2026 – 14: 00 WIB
Jakarta — Aktris muda Dea Annisa kembali menyapa penonton lewat movie horor terbaru berjudul Asrama Putri. Dalam movie ini, ia memerankan karakter Gwen, sosok mahasiswi pemberani yang harus menghadapi teror mistis sekaligus memecahkan misteri di lingkungan asrama kampus.
Peran tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Dea Annisa. Ia mengaku karakter Gwen sangat berbeda dengan kepribadiannya di dunia nyata, terutama dalam menghadapi hal-hal berbau horor. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
“Beda banget karakter Gwen sama aku sehari-hari. Gwen ini pemberani, kalau aku penakut banget terhadap hal-hal berbau horor,” ujar Dea Annisa di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Lewat movie Asrama Putri, Dea Annisa menilai cerita yang diangkat tidak sekadar menyuguhkan ketegangan, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang realitas sosial yang kerap dianggap tabu di lingkungan pendidikan.
Ia menegaskan bahwa kisah yang tersaji di layar lebar merupakan refleksi dari kejadian nyata yang dialami mahasiswi di lokasi tersebut.
“Intinya ini menceritakan kejadian aneh yang benar-benar terjadi pada mahasiswi di sana. Kami mengungkap sisi mistis sekaligus mengangkat isu sosial yang dekat dengan kehidupan asrama,” kata Dea Annisa.
Movie ini mengisahkan kedatangan dosen baru bernama Mia di sebuah kampus ternama di Kota Bogor. Kehadiran Mia justru memicu serangkaian peristiwa mistis yang mengguncang ketenangan seluruh civitas akademika.
Rektor kampus bernama Liza berupaya keras menjaga reputasi institusi agar tetap baik di tengah teror yang terus terjadi. Namun, situasi semakin tak terkendali ketika gangguan gaib makin agresif menyerang para penghuni asrama, terutama Loly, mahasiswi yang memiliki kondisi mental rentan terhadap gangguan makhluk halus.
Konflik semakin kompleks karena asrama tersebut ternyata tidak hanya menyimpan misteri hantu, tetapi juga menjadi sarang praktik bisnis prostitusi terselubung yang dijalankan oknum tertentu.
Puncak cerita hadir saat arwah gentayangan bernama Sally muncul dan menandai bahaya bagi siapa word play here yang berada di lorong asrama. Sosok tersebut menjadi simbol teror yang terus membayangi para penghuni.
Halaman Selanjutnya
Selain menghadirkan elemen jumpscare yang intens, sutradara Wishnu Kuncoro juga menyelipkan pesan mengenai perbedaan sudut pandang antara pendekatan ilmiah dan klenik dalam melihat fenomena kesurupan yang kerap terjadi di masyarakat.










