Dua gempa bumi berkekuatan 3, 2 melanda Myanmar pada Minggu dini hari, menurut Pusat Seismologi Nasional (NCS).
Getarannya terekam dalam rentang waktu kurang dari 30 menit, dengan kedalaman bawah permukaan bervariasi.
Gempa pertama terjadi pada pukul 12: 26 WIB di kedalaman 80 kilometer. Tak lama kemudian, gempa kedua dengan kekuatan yang sama terjadi pada pukul 12: 52 IST, namun pada kedalaman yang jauh lebih dangkal yaitu 25 kilometer.
Dalam postingan di X, NCS menuliskan, “EQ M: 3 2, On: 15/ 02/ 2026 00: 26: 53 IST, Lat: 23 53 N, Long: 94 59 E, Deepness: 80 kilometres, Area: Myanmar.”
Dalam update terpisah ditambahkan, “EQ M: 3 2, On: 15/ 02/ 2026 00: 52: 42 IST, Lat: 23 44 N, Long: 93 49 E, Deepness: 25 Km, Area: Myanmar.”
Gempa bumi dangkal umumnya dianggap lebih berbahaya dibandingkan gempa yang lebih dalam karena gelombang seismik merambat pada jarak yang lebih pendek ke permukaan, menyebabkan guncangan tanah yang lebih kuat dan potensi kerusakan struktural yang lebih besar.
Guncangan terbaru terjadi beberapa hari setelah gempa berkekuatan 2, 8 skala Richter lainnya tercatat di Myanmar pada hari Jumat pada kedalaman 35 kilometer.
NCS kemudian mengatakan, “EQ M: 2 8, On: 13/ 02/ 2026 04: 44: 40 IST, Lat: 23 91 N, Long: 93 85 E, Depth: 35 Kilometres, Area: Myanmar.”
Mengapa Myanmar sering menghadapi aktivitas seismik
Myanmar masih sangat rentan terhadap gempa bumi berkekuatan sedang dan besar, serta tsunami di sepanjang garis pantainya yang luas.
Negara ini terletak di persimpangan empat lempeng tektonik– lempeng India, Eurasia, Sunda, dan Burma– yang terlibat dalam proses geologi aktif.
Sesar transformasi sepanjang 1 400 kilometer membelah negara tersebut, menghubungkan pusat penyebaran Andaman dengan zona tumbukan utara yang dikenal sebagai Sesar Sagaing.
Sesar Sagaing secara signifikan meningkatkan risiko seismik di pusat-pusat perkotaan besar termasuk Sagaing, Mandalay, Bago dan Yangon, yang mencakup hampir 46 persen populasi negara tersebut. Meskipun Yangon terletak agak jauh dari garis patahan, namun populasinya yang padat menjadikannya sangat rentan. Pada tahun 1903, misalnya, gempa berkekuatan 7,0 yang berpusat di Bago juga melanda Yangon.









