Kamis, 5 Februari 2026 – 22: 30 WIB

Abu Dhabi, VIVA — Presiden Kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri menyampaikan pandangan mendalamnya usai mengikuti seluruh rangkaian agenda Zayed Award for Human Fraternity 2026 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Kamis 5 Februari 2026

Baca Juga:

Megawati Usul PBB Segera Buat Hukum Internasional soal AI

Setelah menghadiri diskusi meja bundar ( meja bundar dan berdialog dengan berbagai tokoh dunia, Megawati menyoroti tantangan worldwide saat ini.

Ia menilai dunia mulai kehilangan kesadaran akan persatuan sebagai sesama penghuni bumi.

Baca Juga:

Megawati Hadiri Zayed Honor Roundtable 2026, Bertemu Banyak Tokoh Dunia

“Nah, mengenai kembali kepada Zayed Award Human Fraternity ini, dari semua pembicaraan yang saya dengar, memang mereka berkeinginan bahwa mereka semua merasakan bahwa bagaimana dunia ini sepertinya akan mulai melupakan sebetulnya kehidupan kita itu satu, satu bumi,” ujar Megawati.

Presiden ke- 5 RI Megawati Soekarnoputri

Baca Juga:

Megawati Ucapkan Selamat ke Pemenang Zayed Award 2026

Putri Proklamator RI Bung Karno ini menekankan bahwa di age modern-day ini, peperangan seharusnya sudah tidak lagi menjadi pilihan.

Maka, ia mendorong perdamaian berkelanjutan yang juga melibatkan peran aktif perempuan.

“Dan seharusnya mestinya sudah selesai, tidak ada perang. Yang ada harusnya diteruskan dengan perdamaian. Dan itu tentunya juga masuk ke dalam peran wanita,” tegasnya.

Dalam discussion forum global tersebut, Megawati juga kembali memperkenalkan Pancasila sebagai konsep yang relevan untuk diadopsi dunia.

Merujuk pada pidatonya di Majelis Persaudaraan Manusia yang diadakan Zayed, ia meyakinkan para tokoh dunia bahwa nilai-nilai Pancasila, khususnya kemanusiaan, bersifat global dan sejalan dengan semangat Human Fraternity (Persaudaraan Manusia).

“Begitu juga kalau masalah kemanusiaan, seperti yang saya katakan ketika hari pertama dengan Pancasila itu, sebenarnya kalau mau, saya bilang kepada mereka-mereka bahwa itu sebetulnya bisa menjadi sesuatu yang global,” jelas Megawati.

Hal ini menunjukkan bagaimana sila-sila dalam Pancasila dapat diadaptasi untuk menjawab tantangan worldwide.

“Ketuhanan Yang Maha Esa bisa diadopsi dari kemanusiaan dan yang lainnya, terutama tentunya di dalam masalah diskusi yang masalah kemanusiaan karena Human Fraternity itu, ya saya bilang bisa memakai yang namanya peri kemanusiaan. Sehingga dengan demikian bisa selaras,” imbuhnya.

Selain isu perdamaian dan ideologi, kehadiran Megawati sebagai tokoh perempuan elderly politik juga menarik perhatian peserta konferensi Zayed Award 2026

Halaman Selanjutnya

Dimana, banyak pihak yang penasaran dengan konsistensi Megawati memimpin partai politik besar hingga saat ini.

Halaman Selanjutnya

Tautan Sumber