Rabu, 4 Februari 2026 – 08: 42 WIB
Catatan Redaksi: Berita ini memuat isu sensitif terkait bunuh diri. Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami tekanan emosional, pikiran untuk menyakiti diri sendiri, atau gangguan kesehatan mental, segera cari bantuan profesional seperti psikolog, psikiater, atau fasilitas layanan kesehatan terdekat. Anda tidak sendirian, dan dukungan yang tepat dapat membantu melewati masa sulit.
Baca Juga:
Gus Ipul Prihatin Bocah SD di NTT Bunuh Diri: Ini Jadi Atensi Pemerintah
VIVA — Peristiwa tragis dialami seorang anak berusia 10 tahun, berinisial YBS, asal Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bocah yang masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar (siswa SD) itu ditemukan tewas gantung diri pada Kamis, 29 Januari 2026, siang.
Korban nekat mengakhiri hidupnya di pohon cengket dekat pondok sederhana di tengah kebun yang ia tinggali bersama neneknya.
Baca Juga:
Menko Cak Imin soal Bocah SD di NTT Bunuh Diri: Ini Harus Jadi Cambuk!
Sebelum bunuh diri, bocah malang itu meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya yang berinisial MGT (47 Sepucuk surat itu ditemukan polisi saat olah TKP di sekitar lokasi.
Dalam tulisan tangan sang bocah, tertulis dengan bahasa Bajawa (lokal Ngada) dan ditutup dengan emoji menangis:
Baca Juga:
Menyayat Hati, Isi Surat Bocah SD yang Gantung Diri di Ngada NTT: Selamat Tinggal Mama
“Kertas Tii Mom Reti (Surat buat Mama Reti)
Mother Galo Zee (Mom saya pergi dulu)
Mother molo Ja’o (Mama biarkan aku pergi)
Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis ya Mother)
Mama jao Galo Mata Mae problem Rita ne’e gae ngao ee (Tidak perlu Mom menangis dan mencari, atau mencari saya)
(Jika Mother) Selamat tinggal Mama”
Korban diketahui tinggal bersama neneknya, karena ibunya merupakan orang tua tunggal, bekerja sebagai petani dan serabutan. Ibu korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban. Sementara ayah korban telah meninggal dunia sejak korban masih dalam kandungan.
Malam sebelumnya, Rabu, 28 Januari 2026, korban sempat menginap di rumah ibunya (MGT) di desa tetangga. Korban meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga Rp 10 000 Namun, sang ibu kala itu menjawab sedang tidak mempunyai uang.
MGT menyampaikan bahwa kondisi ekonomi keluarga terbatas dan serba kekurangan, sehingga belum bisa membelikan buku dan pena untuk korban.
Halaman Selanjutnya
Keesokan harinya, korban pulang ke gubuk neneknya, dan siang harinya terjadi peristiwa tersebut.












