Selasa, 3 Februari 2026 – 11:10 WIB
Jakarta – Kasus Inflammatory Bowel Disease (IBD) atau penyakit radang usus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan secara global, termasuk di Indonesia. Sayangnya, peningkatan angka kasus ini belum diimbangi dengan kesadaran masyarakat dan kewaspadaan klinis yang memadai.
Baca Juga:
Pemasaran Digital Kini Jadi Motor Pertumbuhan Industri Kesehatan
Akibatnya, tidak sedikit pasien baru datang berobat ketika kondisi penyakit sudah berada pada fase lanjut, sehingga berisiko mengalami komplikasi serius yang berdampak pada kualitas hidup jangka panjang. Scroll lebih lanjut yuk!
Apa Itu Inflammatory Bowel Disease (IBD)?
Baca Juga:
Menkes Minta Tambah Anggaran Rp529 M untuk Rehabilitasi Faskes Imbas Bencana Sumatera
IBD merupakan kelompok penyakit inflamasi kronis pada saluran pencernaan yang utamanya mencakup Crohn’s disease dan ulcerative colitis. Penyakit ini ditandai dengan peradangan berkepanjangan yang dapat menyerang lapisan usus dan menyebabkan gejala seperti diare kronis, nyeri perut, perdarahan saluran cerna, penurunan berat badan, hingga kelelahan.
IBD bersifat kompleks dan progresif, dengan perjalanan penyakit yang dapat berulang (relaps) dan remisi. Tanpa penanganan yang tepat, IBD dapat memicu komplikasi serius seperti penyempitan usus, fistula, hingga peningkatan risiko kanker usus besar.
Baca Juga:
PDIP Hidupkan Kembali Klinik Waluya Sejati Abadi, Warga Sukabumi Bisa Berobat Murah hingga Gratis
Para ahli juga menegaskan bahwa penanganan IBD membutuhkan pendekatan multidisiplin. Hal ini mencakup skrining infeksi, seperti tuberkulosis sebelum memulai terapi imunosupresif, penilaian aktivitas penyakit secara berkala, serta pemilihan terapi yang terindividualisasi sesuai standar internasional, termasuk pedoman STRIDE II.
Menjawab tantangan tersebut, RS Abdi Waluyo menginisiasi forum ilmiah bertajuk IBD Update 2026: Updates on Diagnosis and Management of Inflammatory Bowel Disease. Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan Asian Education Network in IBD (AEN-IBD) dan Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia (PGI).
Dalam forum tersebut, para pakar menekankan pentingnya pendekatan treat-to-target dalam penanganan IBD. Pendekatan ini bertujuan mencapai target terapi yang jelas, seperti remisi klinis dan penyembuhan mukosa, guna mencegah progresivitas penyakit, menurunkan angka rawat inap berulang, serta mengurangi risiko komplikasi jangka panjang, termasuk kanker kolorektal.
RS Abdi Waluyo menegaskan komitmennya untuk berada di garda terdepan dalam penanganan IBD di Indonesia. Rumah sakit ini mengembangkan IBD Center sebagai pusat layanan IBD pertama di Tanah Air dengan konsep one-stop service berbasis tim multidisiplin.
Halaman Selanjutnya
Selain itu, pemanfaatan teknologi diagnostik modern seperti Intestinal Ultrasound (IUS) memungkinkan pemantauan kondisi usus secara non-invasif dan lebih nyaman bagi pasien.









