Kamis, 29 Januari 2026 – 21:10 WIB
VIVA – Kewaspadaan terhadap penyakit menular baru kembali menjadi perhatian di berbagai negara, seiring meningkatnya mobilitas global. Ancaman virus yang sebelumnya hanya muncul di wilayah tertentu kini dapat menyebar lebih cepat akibat perjalanan internasional.
Baca Juga:
Wamenkes: Virus Nipah Belum Masuk Indonesia
Situasi ini mendorong banyak pemerintah, termasuk Indonesia, untuk terus memantau perkembangan penyakit menular berbahaya ini. Scroll untuk info lebih lanjut…
Salah satu virus yang belakangan menjadi perbincangan adalah virus Nipah, patogen yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi meski jumlah kasusnya relatif jarang. Di tengah kekhawatiran publik terhadap potensi penyebaran lintas negara, pemerintah Indonesia memastikan kondisi dalam negeri masih aman.
Baca Juga:
10 Fakta Virus Nipah yang Diam-diam Mematikan, Gejalanya Mirip Flu tapi Bisa Serang Otak
Penegasan ini disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benyamin Paulus Octavianus. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini, virus Nipah belum terdeteksi di Indonesia.
“Memang (sampai) hari ini belum sampai Indonesia,” kata Wamenkes Benyamin Paulus, Kamis, 29 Januari 2026.
Baca Juga:
Virus Nipah Guncang India, Kemlu RI Pastikan Tak Ada WNI Tertular
Ia menjelaskan, virus Nipah bukanlah patogen baru di dunia kesehatan. Virus ini sudah dikenal sejak 1998 dan hingga kini penyebarannya secara global masih tergolong terbatas dibandingkan penyakit menular lain.
Ia menyebutkan bahwa pada tahun ini hanya ada sedikit laporan kasus dari luar negeri. Meski demikian, karakter virus Nipah yang memiliki tingkat fatalitas tinggi tetap menjadi perhatian otoritas kesehatan dunia.
“Jumlah kasus di dunia ini belum sampai 1.000 kasus. Jadi, belum sampai Indonesia,” tegasnya.
Menurutnya, negara yang melaporkan kasus terbaru telah mengambil langkah cepat guna mencegah penularan lebih luas. Upaya pengendalian dilakukan agar virus tidak menyebar ke negara lain melalui perjalanan internasional.
“Jadi di India pun sudah langsung melakukan lockdown. Mereka juga tidak mau kasus itu terbang ke negara lain. Tapi Thailand sebagai tempat transit, itu segera jaga-jaga,” jelas Benyamin.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia juga disebut telah memiliki sistem kewaspadaan dini di pintu masuk negara. Bandara menjadi salah satu titik utama pemantauan, terutama untuk mendeteksi penumpang dengan kondisi kesehatan yang berisiko.
Terkait langkah antisipasi di dalam negeri, Wamenkes mengatakan Indonesia telah memiliki mekanisme deteksi di bandara, termasuk pemantauan suhu tubuh penumpang.
Halaman Selanjutnya
“Indonesia itu otomatis sudah melakukan skrining. Jadi kita punya alat deteksi di bandara yang suhu tinggi sudah bisa dideteksi. Tapi memang proses skrining seperti COVID belum kita lakukan,” paparnya.












