Selasa, 20 Januari 2026 – 16:00 WIB
Jakarta – Pergerakan harga Bitcoin kembali memasuki fase penuh ketidakpastian. Setelah sempat bertahan di atas level psikologis penting, aset kripto terbesar di dunia ini justru kehilangan sejumlah area support krusial.
Baca Juga:
Bank Besar AS Kompak Serok Bitcoin saat Investor Ritel Panik
Tekanan pasar global, sentimen risk-off, hingga aksi jual investor besar membuat volatilitas Bitcoin kembali meningkat tajam. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa koreksi harga Bitcoin belum berakhir. Sejumlah analis teknikal dan data on-chain terbaru menunjukkan bahwa pasar kripto tengah memasuki fase rapuh.
Bahkan, beberapa pengamat memperkirakan penurunan harga Bitcoin masih berpotensi berlanjut hingga level yang jauh lebih rendah.
Baca Juga:
Harga Bitcoin Anjlok Imbas Tarif Trump ke Eropa soal Greenland
Sebagaimana diketahui, harga Bitcoin tercatat turun hingga ke kisaran US$92.000 atau setara Rp1,55 miliar, setelah sebelumnya menembus beberapa level support. Penurunan ini terjadi di tengah sentimen pengurangan risiko global, kekhawatiran tarif terkait isu Greenland, aksi likuidasi oleh investor besar atau whale, serta tekanan pasar yang lebih luas.
Melansir dari KoinGapeSelasa, 20 Januari 2026, dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin tercatat melemah hampir 2 persen dan diperdagangkan di level US$90.889 atau setara Rp1,54 miliar. Harga terendah harian berada di US$90.833 atau setara Rp1,53 miliar, sementara level tertinggi mencapai US$93.358 atau setara Rp1,58 miliar.
Baca Juga:
Saham Strategy Terbang Dua Digit, Efek Bitcoin Capai Rp1,64 Miliar
Trader veteran Peter Brandt memperingatkan potensi penurunan harga Bitcoin yang lebih dalam. Ia memprediksi Bitcoin berpotensi anjlok ke kisaran US$58.000 hingga US$62.000, atau sekitar Rp980 juta hingga Rp1,04 miliar, dengan tetap mempertahankan pandangan bearish.
Brandt menyebutkan bahwa target harga US$58.000 berada sedikit di atas harga realisasi dan rata-rata pergerakan 200 minggu, yang kerap menjadi area krusial dalam siklus Bitcoin. Ia membagikan grafik harian Bitcoin yang menunjukkan pengulangan pola seperti yang terjadi saat kejatuhan pasar kripto pada Oktober.
Pandangan ini diperkuat oleh analis lain, termasuk Ali Martinez, yang menilai pola pergerakan Bitcoin saat ini mirip dengan fase pasar tahun 2022. Martinez menilai bahwa Bitcoin kerap mengikuti pola historisnya, sehingga potensi koreksi besar masih terbuka.
Sebelumnya, Brandt juga memperingatkan peluang besar penurunan harga Bitcoin setelah aset ini gagal bertahan di atas level psikologis US$100.000. Dalam grafik mingguan berskala logaritmik, ia menunjukkan bahwa Bitcoin masih memiliki ruang untuk turun lebih jauh, dengan batas bawah zona hijau berada di kisaran US$40.000-an.
Halaman Selanjutnya
Sementara itu, analis populer Cheds Trading menyoroti terbentuknya pola bear flag breakdown pada grafik Bitcoin timeframe empat jam. Menurutnya, level US$90.400 atau setara Rp1,52 miliar menjadi area support penting yang perlu diawasi.









