Selasa, 18 November 2025 – 15:54 WIB
Jakarta – Cara baru jaringan teroris dalam merekrut anak-anak diungkap Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri. Kali ini, pola perekrutan dilakukan melalui game online, memanfaatkan fitur komunikasi yang ada di dalam permainan.
Baca Juga:
Heboh! Densus 88 Bongkar Jaringan Teroris yang Rekrut 110 Anak Usia 10-18 Tahun
Juru Bicara Densus 88, Ajun Komisaris Besar Polisi Mayndra Eka Wardhana menjelaskan, para pelaku memulai pendekatannya dari interaksi santai di game online, sebelum mengajak anak ke ruang komunikasi yang lebih tertutup.
“Ada beberapa kegiatan yang dilakukan anak-anak kita ini ya, bermain game online. Nah di situ mereka juga ada sarana komunikasi chat, gitu ya,” kata Mayndra di Mabes Polri, Selasa, 18 November 2025.
Baca Juga:
Rustini Muhaimin Kampanyekan Gerakan Ayo Membaca Demi Perkuat Literasi Anak Pelosok
Jubir Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana
Setelah interaksi dianggap cukup, perekrut kemudian mengarahkan korban bergabung ke grup privat di aplikasi pesan terenkripsi. Di ruang tertutup inilah proses indoktrinasi mulai dilakukan secara sistematis.
Baca Juga:
Alexander Sabar Ungkap Garis Merah Pemerintah untuk Industri Game
“Kemudian diarahkan kepada grup yang lebih privat, grup yang lebih kecil, dikelola oleh admin ini ya. Di situlah proses-proses indoktrinasi berlangsung,” katanya.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Polisi Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, jaringan teroris tersebut memanfaatkan konten digital untuk menarik minat anak-anak. Propaganda dikemas dalam bentuk yang sangat dekat dengan keseharian remaja.
“Propaganda dideseminasi dengan menggunakan video pendek, animasi, meme, serta musik yang dikemas menarik untuk membangun kedekatan emosional dan memicu ketertarikan ideologis,” kata Trunoyudo.
Sebelumnya diberitakan, Densus 88 Antiteror Polri berhasil mengungkap jaringan teroris yang menyasar anak-anak dengan menyebarkan paham radikalisme.
Sedikitnya ada lima tersangka yang merupakan orang dewasa berhasil ditangkap dalam operasi gabungan yang berlangsung sejak Desember 2024 hingga Senin, 17 November 2025. Hal itu diungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Polisi Trunoyudo Wisnu Andiko.
Mereka memakai media digital sebagai sarana rekrutmen anak dan pelajar. Kelimanya memanfaatkan platform terbuka seperti Facebook, Instagram, dan game online guna menjaring target, sebelum menghubungi secara pribadi melalui WhatsApp atau Telegram.
“Dalam penangkapan sebelumnya telah ditangkap 3 orang dengan perkara yang berbeda. Dan di grup media sosial tersebut, 5 orang dewasa telah ditangkap,” kata dia, Selasa, 18 November 2025.
Halaman Selanjutnya
Kelima tersangka itu masing-masing berinisial FW alias JT asal Medan; LM (23) asal Banggai, Sulawesi Tengah; PP (37) alias BBMS asal Sleman, Yogyakarta; MSVO (18) asal Tegal, Jawa Tengah; dan JJS alias BS (19) asal Kabupaten Agam, Sumatera Barat.













